Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2008

~ Ivy Leaf ~

Awan tebal masih bergelayut tepat di atas Gunung Loro, indah lekuk tubuh gunung yang sudah tidak lagi menyemburkan larva itu kian bersolek dengan nuansa hijau pepohonan nya.. empat tahun sudah aku tak pernah berkunjung ke sini, Ngargoyoso, sebuah desa di pinggiran sebelah timur kabupaten karang anyar, terletak dekat kaki gunung lawu. Di sinilah aku di lahirkan 28 tahun yang lalu. Suasana kampung ini tak jauh berubah sejak 4 tahun yang lalu sebelum terakhir kali aku pulang ke kampung ini.

Tidak seperti biasanya kepulanganku kali ini karena di telpon oleh kakakku juga karena permintaan ibu, untuk mendiskusikan sesusatu, ah..sesuatu yang sering membuat pusing kepalaku, ntah kenapa mereka tak pernah mau berhenti membujukku untuk ini.

Aku masih terpaku menatap gumpalan awan di jauh sana, bergeming oleh terpaan sang bayu yang menyapa wajahku. Ku nikmati dingin titik-titik embun yang menembus kulitku yang terbalut sweater. Walau sudah memakai jaket tebal, shall, namun masih terasa menggigit dingin di pagi ini. Tatapan ku masih kosong menatap sebongkah batu yang kokoh di seberang bukit sana.

Segerombolan burung tampak ceria menari-nari, menukik dan bercanda, bealih dari ranting ke ranting sambil bernyanyi ceria, seakan menertawakan aku yang terpaku dalam sejuta gundah, ukiran awan itu seakan ingin mengingat kan aku akan gelayut hitam di kalbu ini.

“Anyelir…bagaimana keputusanmu? Suara itu mengagetkan ku.. bergemingpun aku bisa mengenalinya, itu suara mbak atik yang mungkin sejak tadi mengamatiku..
Nyelir..apalagi sih yang kamu pikirkan, kamu sudah mapan, sudah sangat cukup umur, kenapa kamu masih ragu dengan keputusanmu?”

Dengan langkah perlahan Mbak Atik menghampiriku..tangan nya yang lembut memeluk pundakku, ku rasakan hangat kasih sayang kakak keduaku ini, namun aku tetap bergeming, ntah apa yang terpikir namun hati ini terasa ada yang menusuk, pedih yang tak kunjung sirna. Dingin dan beku, seolah menjulang angkuh sekokoh hamparan Es di puncak Everest.

Untuk kesekian kali aku harus menghadapi situasi sulit ini, aku tak tahu bagaimana harus menjelaskan pada mereka tentang hati ini. Yang selalu bergeming sulit tuk di kata dan di jelaskan, dan hanya tak ingin membuat orang kecewa karena bodohnya rasa ini.

Ku coba menatap sejenak wajah kakak ku, ku lihat tatapannya yang penuh harap, penuh kasih sayang.. namun kembali tak sanggup ku berkata-kata, tatapanku kembali terpaku pada segumpal awan itu..

***
imam adalah teman dari SMP ku dan ketika SMA kebetulan kami satu kelas, waktu SMP dia adalah pasangan ku mewakili kelas bila ada lomba cerdas cermat karena kami satu kelas. Sampai SMA kami mengambil jurusan yang sama. Dia teman yang baik, pintar, dan bagus ahlaqnya. Ketika lulus SMA dia meneruskan kuliah di fakultas MIPA di Jogja dan kini menjadi PNS di Jambi, sedang aku mencari kerja, dan akhirnya melanjutkan kuliah di jakarta. Tak ada yang istimewa, bahkan semenjak lulus SMA kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi, hanya kabar dia juga teman2 yang lain sering aku denger dari pakde yang kebetulan sama-sama aktif di partai.

Dan beberapa bulan yang lalu kami mengadakan reuni SMA di situlah aku bertemu dengannya, namun satu hal yang tak di duga bahwa dia menyampaikan niat ini kepada mbak atik…

“maaf mbak…aku ga bisa..” jawaban ini seperti meluluhkan semua harapan mbak atik dan ibu, namun mereka hanya terkulai lesu dengan jawaban ini, tanpa alasan yang jelas dariku, dan aku pun tak berniat mengatakan alasanku yang sesungguhnya, aku berhak mengambil keputusan ini, karena ini adalah masa depanku.

Aku kembali ke Jakarta setelah ku anggap semua selesai, episode yang sangat tidak aku sukai dan menegangkan, ku coba meregangkan saraf-saraf di otakku dengan kembali sibuk dengan pekerjaan kantor dan beberapa les privat. Aku cukup bahagia dengan apa yang ku jalani saat ini, sibuk dengan anak-anak didik yang lucu, yang selalu menghiburku..

Beberapa minggu kemudian aku menerima email dengan subjek UNDANGAN, ketika ku buka ,,Degg..!!, Imam telah menjatuhkan pilihannya, aku hanya menatap biru dan bersyukur dia menemukan tambatan hatinya. Dan tak kuhiraukan kicauan mbak atik yang sangat marah dengan kejadian ini, dan mengatakan bahwa aku telah menyakiti Imam..Hh..semua ini tak sedikitpun menggoyahkan keangkuhan di hati ini, terserah mau bilang apa …hanya itu jawabku.

***
“Anyelir…, tadi ada telp dari kak Muti, “, teriak Anggi mengagetkan aku yang sibuk melepas kaos kaki, dah jam 10 malam aku baru sampai di kost, tadi pulang kantor aku langsung ke rumah Via, mengurus beberapa administrasi kursus privat yang kami kelola bersama. “ ada pesan Nggi?” “ iya, besok kamu suruh ke Sekre ada yang penting katanya” Oh..ok deh, thanks yah.”.jawabku singkat sambil melangkah masuk ke surga kecilku, sebuah kamar mungil yang sudah ku sewa lebih dari 5 tahun yang lalu. Entah kenapa aku merasa tempat ini banyak menemaniku, saat sedih, tertawa,hingga seakan mengukir makna tersendiri.

Ku hempaskan tubuhku di atas kasur tua ku, tiba-tiba pandanganku menelusuri setiap sisi dinding kamarku, banyak ku pajang tulisan-tulisan karyaku, walau tak indah setidaknya ini expresi jiwaku, dan potret-potretku, Hmm..aku selalu bangga ketika menatap potret-potret itu, seakan terbayang ketangguhanku saat itu, saat di puncak lawu, saat mengarungi sungai citarik, saat tak ada kerapuhan..

Tiba-tiba ku teringat pesan kak Muti untuk menemui nya di sekre besok,..dada ini kembali bergemuruh, teringat pertemuan beberapa hari yang lalu, dan proses itu ..Duh..mengapa aku selalu di sudutkan dengan situasi seperti ini.? Mengapa tak ada satupun yang mau mengerti aku?..”Nyelir hari Sabtu besok adalah pertemuan terakhir proses ini sekaligus keputusanmu” aku masih ingat kata-kata kak Muti seminggu yang lalu.

***
gimana ending nya?” Tanya Anggi yang sedari tadi tak mau beranjak dari kamarku. ”ending apaan? Mang Film gitu ada ending nya?” jawabku ketus. “Your Decision Honey..”
“Oh..itu..Hmm..I will reject it” jawabku cuex. “What?” Anggi terbelalak tak percaya. “Kamu ga salah?” aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“nyelir kamu tuh egois ya..kamu hanya memikirkan perasaanmu sendiri, kamu ga pernah berfikir bagaimana keluargamu, dan perasaan orang-orang yang harus menerima keputusanmu seperti ini, !“, aku hanya diam bergeming, namun hati ini kembali bergemuruh tak menentu.
“aku tahu perasaanmu Nyelir, aku mengenalmu sudah lebih dari lima tahun, aku tahu apa yang kamu rasa, tapi aku ga pernah tahu kenapa kamu tak pernah bisa bersikap lebih bijak..” dalam hati aku membenarkan kata-kata Anggi ini, mungkin aku memang egois.
“sampai kapan kamu akan tetap seperti ini?, sampai kapan kamu akan tetap bermimpi? sampai kapan Nyelir..??”
“aku berhak membuat keputusan atas hidupku sendiri” jawabku dingin
“Ok, I know that…, tapi pernah ga kamu berfikir kalau keputusanmu sering melukai banyak orang yang tak bersalah, kamu tuh.. egois Nyelir..!!” sampai kapan kamu bisa melupakan luka itu?, kamu harus realistis Nyelir..kamu ga bisa selamanya bermimpi, suatu saat kamu akan menyesal…” kata-kata Anggi begitu menikam tepat di ulu hati ini, meresap hingga merambah ke saraf-saraf otakku yang memerintahkan mataku kembali memberikan riak anak sungai di setiap sudutnya, menerobos hingga kristal-kristal bening itu mengalir di pipiku, semakin deras, seperti tiga tahun yang lalu saat aku merasakan kepedihan yang jauh lebih menyakitkan dari ini.
“tak semua getir bisa di ungkapkan, tak semua rasa bisa di katakan, tak semua kepedihan bisa di hapus begitu saja” jawabku menahan isak. “, tak kuasa ku rasakan nyeri yang menusuk-nusuk di dada ini, airmata ku pun semakin deras membasahi pipiku.
“maafkan aku Nyelir..aku tak bermaksud melukai mu…aku hanya ingin melihatmu bahagia, kembali ceria, tersenyum…kamu harus melupakan semuanya Nyelir..percayalah kamu bisa..kamu harus mencoba membuka hatimu untuk yang lain…kamu bisa melupakannya..”
Akhirnya Anggi menyadari kalau kata-katanya telah membuatku menangis hingga dia memeluku dan meminta maaf.
“aku hanya ingin melihatmu kembali tegar seperti dulu, jangan engkau bohongi dirimu sendiri..kamu ga pernah bahagia dengan apa yang kamu jalani saat ini…kamu ga bisa selamanya begini…”
“maafkan aku Nggi saat ini aku belum bisa membuat keputusan itu, aku tak ingin kelak aku lebih melukai nya” jawabku lemah, dan akhirnya Anggi pun mengerti.

***
Kak muti terkejut mendengar keputusan terakhirku tentang proses itu, aku sudah menduga sebelumnya, keputusan ini pasti sangat mengejutkan..
“Nyelir kamu ga salah dengan keputusan itu?” Tanya kak muti lembut. “mudah-mudahan tidak Kak”..jawabku pelan tak sanggup menatap kedua mata kak muti. “kalau boleh tahu apa alasan Anyelir menolaknya..?”
aku hanya terdiam tak sanggup berkata-kata, ku biarkan anganku mengembara, tak tahu apa yang akupikirkan.
“apa anyelir sudah Istikharah?” aku hanya menggeleng, “ ga kak karena dari awal hati ku sudah merasa ga sreg jadi aku pikir ga perlu lagi istikharah” jawabku dengan dingin.
“kenapa ga kamu bilang dari awal, lagian apa sih yang kamu cari, kak Indra itu kan senior kita, dan sudah ketahuan reputasinya..kita pun sudah lama mengenalnya.., apa yang membuatmu tak bisa menerimanya?”
aku hanya terdiam tak sanggup ku menjawab,aku sendiri tak tahu apa yang ku cari, ah..betapa sulit mengerti hati ini…

Aku tinggalkan kak Muti yang masih terpaku, tak mengerti dengan sikapku seperti tak mengertinya aku akan hatiku, aku tahu..mungkin aku telah melukai banyak orang, namun luka itu ga seberapa di banding luka yang mungkin akan ada jika aku menerima nya.
Aku melangkah gontai menyusuri jalan setapak di pelataran Masjid Al Bina, rasanya malas langsung pulang ke rumah, di tempat ini aku biasa melepas kesepian dan kesendirianku.
Di ujung sana tak jauh dari pelataran masjid ini, sebuah stadiun sepak bola yang selalu di kelilingi para remaja ketika sore hari, mereka menghabiskan waktu dengan berlari mengelilingi stadiun itu, sambil bercanda mesra, dan banyak anak-anak kecil yang bermain bola, juga remaja-remaja yang ingin menikmati indah sore hari. Terkadang aku tertawa melihat tingkah lucu mereka. Sesaat hati terhibur.
Namun sore ini rasanya tak ingin ku nikmati pemandangan ini, aku hanya terdiam terpaku melihat daun-daun yang berguguran di halaman masjid ini, ku ingin temukan sebuah jawaban tentang apa yang akan di lakukan daun itu ketika telah jatuh ke tanah, tak bisa lagi naik ke pohon, dan akhirnya dia layu, di injak dan membusuk menyatu dengan tanah.
Sisi hati ini menjerit menyaksikan awan mendung di atas sana bergelayut manja menawarkan hujan…
Ya Robb..kapan kah hujan kan datang?...tolonglah aku tuk bisa membuka hati yang telah tertutup ini..”

***

Bagai kapas putih yang terurai
Kini ku melayang…

Alzrie..
The end of the Year 2006

:: You Make Me Smile ::

Hujan gerimis kembali mengguyur jakarta pagi itu, seperti biasa aku melangkahkan kaki ku menuju kantor, Hhh…aku mendesah malas, pagi itu rasanya malas banget tuk berangkat kerja, udah bangun kesiangan di tambah hujan, Hmm..coba kalau libur, bisa ga keluar deh dari kamar (dasar pemalas..!!)

Baru saja aku turun dari metromoni dan Dengan malas ku langkahkan kaki ku di depan Pakubuwono Residence, hujan gerimis seakan begitu mengerti kemalasanku pagi ini, di balik blazer coklat tebalku aku berlindung dari rintik hujan yang masih setia menemani langkahku.

Beberapa saat kemudian bis yang ku tunggu pun datang menghampiriku, bersyukur masih ada kursi yang belum terisi, segera ku ayunkan kakiku menuju bangku itu, bus pun melaju perlahan, tak ku hiraukan pemandangan di kanan kiriku, aku sedang asyik menikmati rintik hujan yang menyirami dedaunan, seakan tersenyum dan menari mengajakku tertawa menyambut pagi.

Tiba2 sudut mataku menangkap satu sosok kecil meraih pinggiran pintu bus yang sedang melaju. Ku alihkan pandanganku ke arah pintu bus yang aku tumpangi, ku melihat sosok kecil berdiri terhuyung mengikuti laju bus kota ini. Sesaat ku menatap wajah mungil itu, dengan kaos oblong dan celana kolor putih dengan gambar dora emon di depannya, plus sepatu kets belel, lengkap dengan gitar kecil di tangannya. Wajah itu nampak tersenyum ceria, tak peduli laju bus yang sering menghentakkan tubuh mungilnya, sosok kecil itu mulai bernyanyi membawakan lagu Pecinta wanita-nya Irwansyah yang sedang hit itu. Dengan gaya Pe-de nya sosok kecil itu seakan merasa menjadi sang penyanyi yang sedang menghibur para penggemarnya. Bahkan dia pun tak terganggu dengan penumpang yang turun naik, dia begitu menghayati lagu yang di nyanyikannya. Tak sadar aku tersenyum-senyum melihat gayanya yang lucu.

Aku memang pecinta wanita tapi ku bukan buaya, yang setia pada selibu gadis ku hanya mencintai dia
Aku memang pecinta wanita yang lembut seperti dia

Lagu itu mengalir dengan mulus dari mulut mungil itu, bukan syair lagu itu yang aku suka tapi wajah polos seakan tanpa dosa, dan tanpa beban sedikitpun, ku lihat wajah itu begitu ceria, dalam hati ku berharap dia menyanyikan satu lagu lagi, tapi harapku berakhir saat dia melangkah menghampiri para penumpang dengan kantong plastik butut di tangannya, ingin sekali ku bisa bercerita dengan sosok itu, tapi dia cepat berlalu dan aku hanya bisa menatap langkah kaki mungilnya meninggalkan bus kota yang aku tumpangi.

Seiring langkah kaki kecil yang menghilang di ujung jalan, aku merenung mengapa aku harus sejutek ini pagi ini, mengapa aku harus bermalas2an, bahkan aku enggan tersenyum dengan sahabat2ku di kost saat mau berangkat tadi. Bocah kecil itu seakan menyadarkan aku betapa berartinya semangat dalam hidup ini. Benar bahwa bocah itu tak tahu banyak tentang mimpi, tak tahu banyak tentang masalah, tapi aku yakin bocah itu tahu banyak tentang pahit nya hidup di jalanan, bocah itu juga banyak belajar tentang kerasnya hidup sebagai penyanyi jalanan, bocah itu pun juga harus mengesampingkan egonya tuk bisa bermain bersama teman2nya, tuk menikmati indah masa sekolah, tuk bisa duduk manis di depan TV bersama orang tuanya, tuk bisa bercanda ria dengan kakak2 nya. Tapi dia begitu tegar, bahkan tak terlihat sedikitpun kesedihan di wajahnya, bukan karena dia tak punya keinginan, bukan karena dia tak punya mimpi tapi karena dia sanggup mengahadapi kenyataan hidupnya, dia sanggup menjalani hari ini penuh dengan senyuman, bahkan sanggup membuatku tersenyum bahagia. Ya Robb betapa bodohnya aku…apa yang bisa ku lakukan dengan kemalasanku?, apa yang bisa ku lakukan dengan kerapuhanku? Apa yang bisa kulakukan dengan penyesalanku?, aku telah menjadi seorang pecundang, yang takut menghadapi kenyataanku, aku telah menjadi seorang pengecut yang ingin berlari dari masalahku. Apa yang bisa ku lakukan dengan menjadi seorang pengecut seperti ini? Sementara, di depan sana banyak gelombang yang harus ku arungi, banyak jurang yang harus ku lalui ataupun banyak gunung yang harus ku daki, akankah aku berlari menyembunyikan diri, menghindari kenyataan hidupku, bersembunyi di balik topeng ketegaranku, padahal jiwa ini rapuh, lemah dan luruh.

Bocah itu telah mengajarkan aku, betapa dia yang begitu polos mampu membahagiakan orang lain, betapa dia yang masih begitu muda sanggup menahan kesedihan dirinya, lalu apa yang telah aku lakukan?? Manfaat apa yang telah aku tebarkan? Kebaikan apa yang telah aku lakukan? Nothing...!!, ternyata aku hanya sosok yang rapuh dan cengeng, aku hanya sosok yang egois yang tak peduli dengan lingkunganku, aku hanya sosok pengecut yang ingin berlari dari kenyataan hidupku.

Ya Robb..terima kasih kau pertemukan aku dengan sosok kecil itu yang sanggup mengukir senyum bahagia di wajahku pagi itu, aku tahu kesedihan yang di simpannya, aku tahu keras kehidupan yang di lalui bersama puluhan anak jalanan lainnya, jika kelak aku tak sanggup membuat mereka tersenyum maka jangan biarkan aku tertawa diatas kesedihan mereka. Jika aku tak sanggup mengulurkan tanganku tuk meraih mereka, jangan biarkan aku membuat luka di hati mereka. Robb..maafkan aku yang bodoh, sayangi mereka yang tak sanggup ku rengkuh, lindungi mereka yang tak bisa ku raih. Maafkan diri ini yang banyak melukai hamba-hamba Mu, yang tak sanggup memeluk mereka saat mereka terluka, yang tak sanggup membuat mereka tersenyum saat mereka menangis. Maafkan hamba yang tak berguna yang hanya sibuk memikirkan diri ini.

Alzrie

:: Cinta O..Cinta ::


Jingga..aku lagi sedih neh, kenapa yah hatiku resah gini?
Aku mengalihkan sejenak pandanganku dari layar computer ku, ku lihat Cinta sedang terpekur di tempat tidurku, dengan dua tangan menyangga dagunya.
“Ada apa seh Cin, perasaan sedih mulu, hidup tuh tuk di nikmati, gitu aja koq repot” jawabku cuex sambil meneruskan ketikan data base organisasi yang jadi PR ku untuk besok. “Yee..gitu amat seh, ga usah muna deh pasti kamu juga pernah ngerasain khan? Huh..sok banget seh.” Jawabnya manyun sampai mirip Omas tuh bibir hikhik
“Ya iyalah (sambil menirukan gaya Indi Barend hehe) yang ga ngerasain resah, sedih tuh hanya orang mati, ya namanya hidup tuh penuh warna, ya senang, ya sedih, ya susah, That’s life girl, so Enjoy aja lage..”
“masalahnya bukan gitu Jingga? Masalah ku tambah akut neh”
“Gubragg, mang penyakit getu akut??? Wah harus cepet di obati tuh Cin, ntar aku ga bisa ketemu kamu lagi deh, jangan Cin...Duuh...aku kan masih pingin ketemu sama kamu hehehe” ledekku membuat muka cinta kian bersungut-sungut
’Plizz deh Ngga, aku serius neh..Curhat Dunk”
”Ehm..siap Boss..silakan di mulai pengakuan dosanya... hahaha”
”pernah ga seh kamu suka sama seseorang, Ngga??”
Upsst..serta merta ku alihkan pandanganku ke arah Cinta, wah Gaswat, jangan2 neh anak bener2 dah kena tuh penyakit akut yang namanya Jatuh Cinta, Duh..bakal berabe neh urusan ”masih kasus yang sama ya?”
” ya gitu deh..” jawabnya lirih.
Seiring selesai tugas ketikanku aku pun mendekat ke arah Cinta, ntah sudah berapa lama sahabatku ini terpuruk dalam masalahnya itu, bahkan sudah hampir di titik jenuh aku menasehatinya tapi Nihil, semua hanya comes and goes by gitu aja. Tapi sebenarnya masalah perasaan bukan masalah yang sepele karena ini bisa berimbas ke mana-mana, liat aja penampilan dia tiap hari dah kayak ayam potong, kusem tak bersemangat, maunya bengong melulu. Uhh..separah inikah virus akut yg bernama “love” itu kalau sudah berjangkit hinggá mengalahkan segala nalar logika, Uhh..kalau aku boleh memilih seh, aku ga mau deh terjangkit selama-lamanya..hihii.

***
“Ngga..aku menyukai seseorang..”
“ o ya? Ehm..kayaknya baru ini neh aku dengar tuan puteri jatuh hati, siapakah gerangan pangeran pujaan? Apa susahnya..ya ungkapkan aja ama MR, trus proses trus klo cocok…”
“dengerin dulu..!! jerit Cinta setengah berteriak melihat aku yang nyerocos
”itulah Ngga, aku juga ga ngerti, aku jadi bodoh begini, nalarku seakan ga jalan, logikaku kandas”
“maksud Loe?”
“dia dah punya Istri Ngaa?”
“Hahhh???? Apa Cin?? Aku ga salah denger ya? kamu Ngigau ya Cin?? Tanyaku mlongo seperti sapi ompong, ntah bagai sambaran petir, atau seperti dongeng cinderella (ga nyambung ya?? Biarin Hwekk) yg jelas ini hal yang surprise banget. Bayangin Guys..Cinta tu temen baikku, dia tuh Akhwat and bisa di bilang aktivis, koq bisa-bisanya kejerat sama seorang yang sudah beristri, hinggá aku berimaginasi seistimewa apakah laki-laki itu? Seperti Brad pitt, Keanu Reaves, Tom Cruise atau seperti Sammy Yusuf, atau malah kayak Tukul Arwana Hwekekekeek

“ ceritanya panjang Ngga, awalnya aku hanya berteman di dunia maya, dan aku ga tahu klo dia sudah beristri karena dia memang tidak pernah cerita”
“Yah Cinta…you are too young in this Wild World’’
“iya…aku tau aku salah, bahkan dari awal aku menjalin hubungan teman aja sudah salah, tapi ini bener2 cobaan banget Ngga, dia tuh sahabat yang baik,enak di ajak ngomongnya dan selalu nyambung makanya aku seneng berteman sama dia”
“so you just ignore that it’s not recommended to have such relationship?”
“yup…even aku ga menyadari kalau dia telah bohong sama aku, dan aku juga tak bisa marah ketika dia berterus terang akhirnya“
“then?he knows your feeling?”
“Iya, bahkan berniat tuk taaruf beneran dan menikah”

Sejak itu aku sering memperhatikan Cinta, memang ada hal-hal yang berubah, seperti lagu kesayangannya yang dulu Nasyid, terkadang harus di ganti dengan lagu-lagu Mellonya Melly, malam2 yang biasanya kami lalui dengan tawa kadang harus hilang karena Cinta lebih suka mengunci pintu kamar. Tapi ada juga hal yang positive, aku jadi sering denger cinta menangis tengah malam. Aku dengar ketika dia merintih, memohon kepada Sang Pemilik hati agar di hindarkan dari segala rasanya. Cinta tetap aktiv di berbagai kegiatannya, dan aku cukup salut dalam situasi hati yang ”broken Heart” Cinta selalu mengisi harinya dengan hal yang bermanfaat. Tapi ternyata cobaan itu tak begitu saja berlalu, Cinta adalah type yang idealist, dari awal perkenalanku baru kali ini dia bercerita ketertarikannya pada seorang Ihwan, dan baru kali ini pula aku mendengar dia ingin mengakhiri masa sendirinya itu dengan ihwan pilihan. Tapi benarkah ini yang harus jadi pilihannya??, di balik proses yang tidak murni lagi Cinta mungkin akan melukai banyak orang, Keluarga Ihwan itu juga keluarganya, dan haruskah keputusan itu diambil diatas derita banyak orang demi mempertahankan egoisme pribadi? Di samping kemurnian niat pun telah ternodai. Mungkin bukan lagi karena mencari teman perjuangan seperti yang dia impikan tapi lebih pada mencari penanggung jawab dari perasaan yang dia miliki. O Cinta..dimana kau letakkan Dia dalam keputusanmu?? Mengapa semua begitu mudah meluluhkan ketegaranmu??

***
”Ngga.., apakah aku punya pilihan lain?”
“ tidak Cin, kamu hanya punya dua pilihan..Menikah dengan nya atau lupakan dia”
“bagaimana seandainya aku memutuskan untuk menikah dengannya?,”
“being the second-one?”
“yup, kenapa? toh ga di larang kan?, dalam hal materi dia cukup mapan untuk itu, dan dia juga punya background agama yang baik”
”dan kamu yakin dia bisa adil gitu??? Cinta, kamu ga bisa begitu mudah menggunakan hukum tuk melegalkan keinginanmu, banyak hal yang harus kamu pertimbangkan, sekarang bayangkan kalau kamu dalam posisi istri pertamanya, tiba-tiba suami kamu tertarik sama wanita lain dan ingin menikahinya, apa yang kamu rasakan? Pastinya sakit Cin, ga mudah untuk menerima itu semua, apalagi dengan dalil yang hanya karena suka, Huhh..suatu hal yang tidak adil.”
”tapi ini juga ga adil buatku Ngga?, kamu tau ga Ngga, aku tersiksa dengan semua ini, aku hanya menyimpan perasaanku sendiri, dan aku juga tidak menginginkan perasaan ini ada di hatiku, dia begitu saja hadir hinggá membuatku seperti kehilangan arah, Ngga..ini yang pertama buatku, aku ga mau terus2an zina hati dengan selalu mengingatnya..”
Ku belai rambut Cinta dengan penuh kasih aku mengerti kesedihan yang di rasakannya. ”kamu masih punya banyak pilihan Cin, tapi tidak dengan Istrinya, kamu masih punya banyak waktu untuk menemukan sosok lain yang mungkin jauh lebih baik dari dia, tapi Istrinya hanya punya dua pilihan, menerima dengan rela atau dengan derita.”
”cinta itu tidak egois Cin, dia memahami, dia mengerti, dan dia rela berkorban, itulah cinta sesungguhnya. Yang kamu rasakan mungkin juga cinta tapi yang di balut oleh nafsu dan emosi ingin memiliki” ku saksikan mata air itu mulai memancar dari telaga bening milik Cinta, ku memeluknya erat, tak kubayangkan godaan ini akan menimpa sahabatku yang baik dan selalu aktif di kegiatan social keagamaan ini. Mungkin benar seseorang akan di uji sesuai dengan kadar keimanannya.
”trus, apa yang harus aku lakukan Ngga?, aku benar-benar menyukainya..”
”Cintaku, sayangku negeriku, love-loveku...kamu tuh masih muda, kamu cerdas, kamu cantik, kamu ingin selalu bisa bermanfaat bagi yang lain, jangan biarkan perasaan itu menghancurkan mimpimu, cita-citamu, aku sangat yakin banyak ihwan yang ingin menyandingmu di luar sana, banyak orang yang menanti kepedulianmu. So..open your eyes girl, banyak yang bisa kita cintai di luar sana, mereka yang papa, mereka yang lemah. Bukankah itu yang selalu kau cita-citakan?.” cinta mengangguk perlahan. ”jangan bosan tuk selalu memohon padaNya, agar di hindarkan dari cinta semu, cinta karena keelokan rupa, cinta karena harta dunia, dan cinta yang membuat kita jauh dari-Nya, aku yakin kamu bisa menghadapi semua ini, hanya butuh waktu”
”jadi aku harus menghindrinya Ngga??, aku harus melupakannya?” tanya Cinta dengan wajah bodoh danmemelas
”kecuali kamu mau jadi istri keduanya, dan menancapkan duri di hati istrinya” jawabku lugas
”tapi gimana kalau Istrinya mengijinkan kami menikah?”
”huuh..bandel amat seh neh anak” tak pelak ku cubit pipi Cinta gemas ”mana kamu bisa menembus hatinya yang begitu dalam? Bagaimana kalau ternyata kamu menyebabkan dia sangat menderita? Apa kamu ga akan menyesal nantinya? Kamu pasti ga tega khan Cin, membiarkan orang lain terluka karena kamu?”
”tau ga kenapa, aku sangat ingin kamu mundur?? Karena proses kamu dari awal itu dah ga syar’i, alasanmu pun ga Syar’i, tujuan menikah itu untuk ibadah, mengabdi bukan melampiaskan keinginan semata apalagi dengan memaksakan keadaan seperti itu”

***
Pagi ini ku lihat Cinta tertawa ceria bersama adek-adek di yayasan Latansa. Seperti biasa dia mengajar dan bercanda bersama adek-adek yayasan ini. Itulah Cinta, dia Sangat mencintai anak-anak, dan bercita-cita mempunyai panti asuhan sendiri kelak. Pagi ini ku lihat dia lebih ceria, dan Kabut di matanya perlan-lahan sirna.
“Cin dah pantes tuh jadi Ibu?” Candaku ketika melihatnya sedang bercerita dengan Dinda, adek asuh di yayasan Ibu Ita.
“yee..pantes seh pantes, yang mau di ajak mantesin Belum ada” jawabnya sambil mengedipkan sébelah matanya.
“Hmm…masih mau jadi second wife..?? godaku
“ ga ah…aku banyak merenung akhir2 ini, kamu benar Ngga banyak hal yang bisa ku lakukan dari pada memikirkan perasaan ini, aku begitu bahagia bersama mereka, aku masih punya banyak kebahagiaan selain memilikinya..”
“Hm..bener neh?? klo Istrinya ngijinin gimana? Hahahahah
“Jinggaaaaaaa!!!! Teriak CInta sambil mencubitku.
“ye beneran neh??” tanyaku mendesak
“iya, aku dan dia sudah membuat keputusan tidak bisa meneruskan langkah itu, dan kami juga memutuskan tuk saling menjauh tuk sama-sama melupakan perasaan yang ada dan memperbaiki diri, aku ingin kembali seperti dulu Ngga, kembali ke niat awalku..doakan aku ya..aku benar2 harus berjaung untuk perasaan ini”
“Alhamdulillah, ..Insyaallah aku akan selalau berdoa tuk kebaikan mu because you are my best”
“ eh Cin..coba bayangin deh kalau mereka-merka ini anak-anak mu, tentu kamu akan bahagia banget khan, apalagi kalau suamimu setia dan sayang sama kamu’
“yee..koq aku mulu seh, kamu khan juga Ngga..”
“Stt..dengerin dulu..tapi tiba-tiba suamimu mau menikah lagi …gimana? Hahahhaha. Godaku sambil berlari menghindari dari Bogem Cinta.
“Ngga…udah deh Bantu aku tuk melupakan kisah sedih ini ya..I wanna Back to be I was”
“ok..ok, sorry ya aku hanya ingin kamu bahagia tanpa melukai kebahagiaan orang lain. Ok”
“ok..Thanks ya Ngga, Back me up Plizz”
Ya Robb..perjaungan ini begitu berat, perjuangan tuk menjaga hati dan diri kami, bimbing langkah kami dan hadirlah selalu dalam hati kami hingga kami tidak lagi terlena dalam cinta duniawi semata.

Alzrie

:: Di Jalan-Mu ku Ingin Menikah ::


Arum baru saja menyelesaikan sholat witir ketika Adzan Subuh Berkumandang, namun tiba2 dia hentikan sejenak sebelum sholat qobla Subuh karena HP nya berdering, sekilas melongok ke Handpone di mejanya sekejap rasa bahagia menyelimuti hatinya..”ibu..” , tapi tiba-tiba sambungan terputus, Arum memutuskan untuk menelpon Balik
:Assalmu’alaikum”
Wa’alaikumsalam”
“gimana keadaan ibu? Ibu sehatkah? “
“ibu sehat Rum , Cuma batuk Ibu aja ini belum sembuh-sembuh, Ibu kangen banget sama kamu, Arum sendiri bagaimana di Jakarta?”
“Arum Sehat Bu, Alhamdulillah baik-baik saja, Arum juga Kangen banget sama Ibu tapi Arum belum bisa pulang, Ibu sudah ke dokter?”
“sudah…ibu ga papa koq Nduk, kamu Nda usah kuatir”
“Bu..maaf ya Arum belum bisa kirim apa-apa lagi”
“Arum..Ibu ngerti, yang penting kamu sehat saja Ibu sudah senang, Nda usah mikir macam-macam pikir dirimu aja sendiri dulu”
“O ya Rum bagaimana dengan permintaan Ibu?”
Sesaat Arum tersentak, permintaan?? Perasaan Ibu ga pernah minta apa-apa, Cuma kemarin minta ganti Hp karena HP yang lama rusak dan sudah Arum belikan dan dititip sama Yanto sepupunya yang pulang kemarin”
“permintaan apa ya Bu?” Arum mencoba mengingat-ingat kalau-kalau dia lupa amanat Ibunya
“soal Jodoh kamu Rum”
Degg..Kata-kata Ibu membuat dada Arum berdebar Hebat, ntah kenapa setiap kali ibu tanya tentang hal ini, Arum selalu merasa dadanya bergemuruh tak tahu apa yang akan di sampaikan pada ibunya.
“O..Itu…Mohon do’a Ibu aja ya..mudah2an Arum di pertemukan Allah dengan jodoh Arum secepatnya”
“Arum..Ibu ini sudah tua, Ibu akan tenang kalau melihat kamu sudah mapan, punya suami”
“Arum tau Bu..Arum juga ingin bisa membahagiakan Ibu, jangan bosan do’a untuk Arum ya Bu..”
“iya..Ibu selalu berdoa buat kamu Nduk…tapi tolong ingat kata-kata Ibu ya..Jangan terlalu melilih yang penting dia baik”
“iya Bu…” Arum tak lagi bisa berkata seakan ada duri melintang yang menghalangi nya tuk bersuara, tak terhitung betapa sering Ibu mengingatkannya tentang satu hal ini, tak cukup Ibu, Mba Asih Kakaknya Yang di Sumatera tak pernah berhenti menjadi Wedding Alarm bagi dia.
Percakapan pagi itu berakhir dengan gundah di hati Arum…Kegundhaan akan kerinduan pada Ibunya juga, juga Amanah yang Belum jua dia tunaikan

“Ya Robbi…Pagi ini sekali lagi Ibu hamba mengingatkan hamba tentang amanah yang belum mampu hamba tunaikan. Ntah karena hamba Belum menemukannya atau karena keangkuhan di hati hamba..

Robbi…Seandainya Engkau menyiapkan jodoh Hamba Di dunia Ini, hamba hanya Ingin dia adalah seorang yang akan mengajak hamba berjuang di jalanMu
Hamba Hanya Ingin dia seorang yang hatinya di penuhi kecintaan kepadaMu, hingga dia ajarkan hanba untuk mencintaiMu, maka pertemukanlah kami….

Robbi…Hamba Sangat ingin membahagiakan ibu, berikan hamba kesempatan Ya Robb..Andai masih ada waktu berikan hamba kesempatan untuk membahagiakan hatinya, dengan memenuhi harapannya…
Robbi..berikan hamba keikhlasan dan keridhoan atas apapun yang Kau takdirkan untuk hamba..Amiin

Setitik airmata di sholat subuh Arum kali ini, membuatnya sedikit lega, seakan sesak di dada perlan-lahan berkurang setiap kali dia mengadu padaNya.

***
Rum gimana kabar Taaruf mu? Dah ada kemajuan? Tanya Lenda yang sedang sibuk membereskan laptop sehabis presentasi pertanggung jawaban program sore itu
”Aku mundur Len” jawab arum lesu
”kenapa lagi seh Rum? Kayaknya kamu tuh terlalu banyak kriteria makanya ga jadi jadi ”
”Len apa aku salah kalau aku menginginkan pasangan tebaik untuk dunia akheratku, mencari ayah yang baik untuk anak-anakku kelak??”
”tentu saja tidak salah Arum, tapi sudut pandang ”terbaik” mu itu mungkin yang perlu di tinjau lagi”
”maksudmu?”
”yah.. terbaik itukan proporsiaonal ga harus yang kasat mata memenuhi kriteriamu, tapi bisa jadi ada kekurangan dia yang bisa membuatmu lebih baik dan harus kamu terima, selama ini kamu banyak menolak bahkan untuk taaruf, untuk orang yang kamu anggap bukan kriteria ”Ihwan”, padahal siapa tahu itu ladang amal buat kamu, setiap kita khan da’i dan daiyah yang bisa saling mendakwahi dan mengingatkan, tak terkecuali jika kita punya kemampuan yang lebih baik dari suami, khan ga ada salahnya”
”Len aku belum cukup berani untuk mengambil resiko itu, suami adalah imam Len, aku ini masih labil, aku ingin seorang suami yang bisa membimbing aku lebih baik, Ilmu ku masih sangat terbatas wajar dong kalau aku ingin suami ku lebih bagus ilmunya dari aku”
”ya wajar seh Non, tapi tetep aja kurangi Kriteria, Hmm....memang yang kemarin itu kenapa?”
”Len coba bayangin aja deh, mang ada gitu ”Ihwan” yang hobinya main bilyard,??”
” hah?? Memangnya?”
”aku ga mau nyalahin moderator seh len, juga ga berpandangan klo itu hal yang sangat buruk tapi jauh banget gitu loh dari Misi aku..”
”membangun panti asuhan?? sekolah alam tuk anak Jalanan?”
”yup tuh dia.. aku butuh orang yang bisa mendukungku untuk semua itu”
”yaaaah...semua khan berproses Rum”
”memang Len, tapi tidak hanya Proses, sebelum ada proses harus ada awal khan?, setidaknya aku ingin menemukan bibit itu ada dalam diri calon suamiku, hingga aku bisa menyirami nya kelak tuk tumbuh subur bersamaku, menurutku menikah adalah mencari teman seperjuangan Len, jadi setidaknya harus menyamakan visi”
”Aaah kamu tuh terlalu diplomatis tau ga??”
”yee..Biarin...!!”

***
”Gimana kabarmu adekku?” suara kakaku yang khas terdengar lantang di sebrang sana
”baik Mba’ Alhamdulillah, gimana keluarga di sana, semua sehat kah?”
”Alhamdulillah semua baik2 aja Rum, o Ya Rum Akad nikahnya Deri dah di laksanakan kemarin, dan semua berjalan lancar”
”syukurlah, sebenernya sedih juga seh mba’, Arum ga bisa dateng”
”iya seh, dan kemarin waktu akad nikah nya Deri, Mba Inge dan Bulek Nie Nangis inget kamu Rum”
”Loh, koq..? mang kenapa mba’?”
”iya..waktu di rias si Deri sepupumu itu mirip sekali sama kamu, jadi semua pada inget sama kamu”
”Ooo...Gitu, masak seh, tapi tetep masih cantikan aku dikit khan mba’... hahaha,” candaku membuat mbak Asih sewot
”huh..Ge-er aja, cakepan kamu dikit, banyakan dia”
”Nah itu maksud Arum Mba’ hehehe”
”tapi ngomong-ngomong kapan kamu Rum?
Yah Mba’...itu lagi, itu lagi...nanti deh kalau Arum dah siap calonnya pasti Mba orang yang pertama Arum kabari setelah Ibu, Mba’ banyak-banyak doa aja buat Arum ya, mudah2an Arum di karuniai suami yang soleh mba’”
”Nah berarti kamu belum ketemu-ketemu juga toh sama si Soleh itu?”
”yah si Emba’, Si soleh anaknya pak Marjan seh tiap hari ketemu, maksud Arum suami yang soleh mba’ ku..”
”ah..terserah kamu ajalah yang penting jangan lama-lama Rum, umur kamu tuh udah lebih dari matang tuk berumah tangga”
”iya..iya..Arum tau koq, udah deh ganti topik ya?” bujuk arum dengan nada putus asa..

***
”Kakak..! kakak jangan banyak kriteria deh, yang penting agamanya baik udah, ga usah pertimbangan lagi, jaman sekarang nyari yang bener aja susah loh Kak...” kata Aisyah di sela-sela perjalanan ketika mengantar Arum pulang dengan motor Supra kesayangannya, hampir setiap minggu Arum ke rumah Aisyah tuk sekedar berbagi ilmu dengan adek-adek di rumah Aisyah, karena orang tua Aisyah ini mempunyai yayasan pendidikan untuk anak yatim dan keluarga pemulung. Arum sangat senang bisa bertemu dengan keluarga Aisyah yang sangat baik hingga dia bisa belajar banyak hal terutama untuk mewujudkan cita-citanya kelak. Tapi kadang jenuh juga dengan berbagai peringatan dari sahabatnya yang sudah di anggap seperti adek nya sendiri itu, Aisyah.
Ya..Mba’ Arum..malah kalau Okti ga punya kriteria, yang penting dia hanif walaupun ilmu agamanya kurang khan bisa belajar mba’ , asal ada kemauan aja untuk belajar, buktinya Okti ga banyak pertimbangan lagi ketika kak Dedi melamar Okti.” sambung Okti yang ga mau ketinggalan
”ya..iyalaaah..Kak Dedi khan agamanya bagus, rasa sosialnya tinggi, kerjaan mapan, tampang keren, mau cari apalagi kalau kamu nolak?’ sela Aisyah sewot.
”tapi bukan itu point nya loh..”
“ Ah..Teori.., dulu juga sering nolak ta’aruf khan? jawab Aisyah sambil nyengir.
Arum hanya terdiam melihat ulah sahabatnya itu, dia sama sekali tak marah atau tersinggung ketika mereka bilang, kakak tuh idealist, kakak tuh banyak milih, Mba’ tuh kebanyakan kriteria atau bahkan ketika ada yang bilang, Inget Rum kamu juga khan ga sempurna, dan memang no body is perfect, jadi jangan terlalu perfectionist lah..”
Berbagai ungkapan itu Arum terima dan di simpan lekat dalam memori otaknya sebagai tanda kasih sayang dan perhatian meraka padanya.
”Yah..bisa jadi mereka benar mungkin aku memang idealist, aku sok milih atau aku perfectionist..apapun yang mereka katakan tak salah dan mereka mang berhak mengatakan itu, karena memang kenyataannya sampai detik ini aku belum menemukan pasangan yang cocok tuk menemani sisa hidupku, tapi betapapun dekatnya mereka denganku, betapapun sayang mereka padaku, mereka tak akan bisa mengambil tanggung jawabku, aku yang akan bertanggung jawab atas apapun pilihanku ” bisik arum dalam hati, dengan langkah gontai ia menyusuri gang kecil menuju rumah kostnya...”Ah..sudah tak pantaskah aku hidup sendiri?” Tanyanya dalam hati sendiri, setitik airmata tak kuasa ia tahan lagi.

***
Malam ini jarum jam dah bertengger di angka 12.00, tapi Arum belum juga bisa memejamkan mata, libur seharian ini di isi dengan berkhidmat di Pelatihan leadership dari Rohis, dan tugasnya sebagai Class Leader pun sukses, juga tak ketinggalan canda tawa dengan sahabat-sahabatnya yang selalu mengisi hari-harinya dan seakan selalu meneguhkan langkahnya. Namun malam ini terasa begitu sunyi bagi Arum, gelisah itu merayap si kisi hatinya, mungkinkah semua itu kerena kabar dari beberapa sahabatnya yang dia terima tadi siang, Okti sudah jelas bulan depan akan menikah dengan kak Dedi, Lenda minggu depan mau Khitbah, Indah juga minggu depan khitbah, Nadya, Umi, Reni, semua sedang proses taaruf. Ach..bukankah itu seharusnya kabar gembira bagi Arum, tapi kenapa justru dia merasa sedih. Apa karena rasa kehilangan, atau merasa tak lagi ada teman yang sendiri? Arum sadar betul bahwa waktu tak akan pernah kompromi meranggas habis usianya, bahkan mungkin keremajaannya, di usianya yang sudah menginjak seperempat abad tentu saja kegelisahan tentang itu ada, hanya saja masalah jodoh bukan hal yang sepele bagi Arum, tak bisa asal tembak atau asal pilih, mungkin karena itu pula cap”idealist” itu kini di sandangnya.

Makalah tentang ”future projectnya” tak bisa dia teruskan tiba-tiba saja semua hilang dari otaknya, ntah tulisan apa yang akan di tuangkan lagi dalam makalah itu, sementara dia masih berkutat di depan laptopnya, tak sadar jari-jari itu menari di atas key board dan menuliskan sebuah puisi yang sebagian dia sadur dari isi cerpen di majalah Annida yang kemarin di bacanya, mungkin karena isi puisi itu bisa merepresentasikan apa yang dia rasa hingga dia hafal setiap kata dan menuliskan dalam buku harian di laptopnya....
Kepada Calon Suamiku….
Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.
Seperempat abad sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.
Gelar sarjana telah aku raih setahun yang lalu, kini aku sedang banyak belajar mulai dari beorganisasi, kepemimpinan sampai memasak dan, cara bergaul dengan anak, untuk menambah khasanah ilmuku hingga kelak aku bisa mendampingi dirimu sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan bisa menjadi Istri tempat mu berbagi segala hal .
Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk memperbanyak ilmu agamaku, sedikit-sedikit aku belajar menghafal ayat-ayat cintaNya, juga aku mulai belajar bahasa syurga, bahasa yang dulu ku anggap tak lebih penting dari bahasa inggrisku, kini aku berusaha keras untuk menguasainya. Aku juga sedang mengkoleksi banyak makalah dan belajar berbicara di depan umum, semoga suatu saat terwujud cita-citaku tuk bisa ikut terjun berdakwah bersamamu.
Calon suamiku….
Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.
Calon suamiku….
Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!
Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.
Wassalam,

Adinda
NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

Seiring kalimat terakhir puisi itu Arum tak bisa lagi menahan kantuknya hingga dia tertidur di meja belajarnya.

***
“namanya Fauzi kak..”
“Fauzi, siapa dia dek? Tanya Arum pada Aisyah
“ yah..ihwan yang mau taaruf sama kakak itu anak nya temen ayah namanya Fauzi, kali ini kakak ga bisa nolak deh”
“tapi dek..kakak khan…”
“udah yang penting taaruf aja dulu, Insyaallah Ihwan banget deh kk, mudah2an cocok sama selera kakak hehehe”
“yeee…sok teu loh dek ..” jawab arum sambil mencubit pipi aisyah, yah Arum akan mencoba, Arum tak akan putus asa tuk selalu mencoba sampai dia menemukan pangerannya. Who knows Fauzi adalah pangeran yang Allah persiapkan untuknya??


Jakarta, 310507
Zrie

:: Antara Dua Hati ::


Antara Dua Hati

Sudut Bus Malam
Sejak sore kemarin aku berada dalam bus Ac ini, sendiri berada dalam bus memang hal yang membosankan, tidak ada teman bicara hanya menambah kesunyian hati. aku lemparkan pandangan ke luar, ku perhatikan pepohonan yang hijau yang seolah mengerti kegundahanku, ku lihat juga fatamorgana yang ada di depan, seolah bisa di jangkau, tapi jauh ketika hendak di sapa. Aku larut dalam lamunan dan sejuta hayalan di masa lalu, aku berandai-andai sendiri penuh penyesalan, luka, pedih. Sesekali juga bahagia, jika teringat episode lucunya. Sekali lagi kata-kataku terhenti ketika mengingat kalau hal itu akan sulit untuk ku lanjutkan, baik bagi diriku pribadi ataupun bagi dirinya, O mengapa semua ini harus ada? terlintas sesosok bayangan maya yang akhir-akhir ini mengisi ruang hatiku, menikam erat di dinding kalbu, kalau saja dia tidak pernah hadir dalam duniaku, mungkin aku tidak seberat ini untuk menerima tawaran orang tuaku, mungkin aku dengan gampangnya mengatakan iya kepada mereka, aku tidak tahu pasti apa jawabanku nanti ketika bertemu dengan mereka.
Perlahan siang mulai menyapa malam, ku perhatikan dari jendela bus, matahari perlahan-lahan meninggalkanku dalam gelap, seperti gelapnya hatiku saat ini. “Ah… Robb, aku tidak punya tempat untuk mengadu selain kepada-Mu, aku juga tidak punya tempat untuk mengeluarkan semua isi hati selain kepada-Mu, dan aku yakin semua ini adalah takdir yang telah Kau tetapkan untukku, aku yakin cahaya itu akan datang menemuiku” itu bagian lirih doa hatiku. Bus terus melaju sementara penumpang yang lainnya hanyut dalam mimpi indah.

Sudut Rumah Tua
Sepuluh tahun yang lalu aku di sini, terakhir ketika aku masih SD, tanpa terasa kini usiaku jauh menginjak remaja, bahkan bisa di katakan dewasa, ada rasa malu kalau-kalau ketemu teman lama yang sudah berkeluarga, atau sudah punya buah hati. “Fen…, kapan sampai dari Jakarta? Wah sudah jadi orang penting ya di sana, ajak-ajak dong”, “tadi pagi Rin…”, aku merasakan suasana akrab padahal sudah 10 tahun tidak bertemu dengan Rini, temanku waktu di SD dulu. Aku sedikit kaget melihat Rini menggendong anak kecil, dan satu laginya memegang tangan kanan Rini. “Sudah berapa anakmu Rin?”, tanyaku polos, “baru dua Fen, ini yang paling besar 2 tahun, Ali namanya, ini yang kecil baru 7 bulan, Aisyah” papar Rini dengan wajah sumringah seakan memaparkan kebahagiaan yang dia miliki bersama keluarganya. ”Wah nama yang bagus, nanti main kerumah ya”. Aku terus berjalan menuju rumah tua itu, tempat aku di besarkan. Sekali lagi aku dikejutkan dengan sapaan seseorang, “Fen…, kapan sampai? Ruri juga teman SD ku. “Wah udah jadi orang kota ya sekarang, tidak seperti kami, masih di sini saja, anak desa, mm..suami mu mana Fen?? Deggh…, aku kaget setengah mati, sedikit gagap ku jawab sembari menutupi gundah di hati “Masih di Ujung Rur...Di ujung Doa hehe, jawabku berusaha mencairkan suasana hatiku , do’akan aja ya”.
Memang sangat berbeda kehidupan kota dengan di desa, di sini gadis seusiaku sudah terbilang langka, bahkan adek kelas ku yang lima tahun lebih muda saja sudah duluan menikah, mungkin itulah alasan mengapa mereka selalu menjadi Wedding Alarm untuk gadis-gadis seusiaku.
Rasa senang terselip di hati walau bercampur gundah gulana.10 tahun bukan waktu sebentar, tapi seolah baru kemarin saja aku meninggalkan mereka, dan kini aku masih menerima suasana kampung ku yang akrab seperti ini. Aku memang sangat jarang pulang ke kampung ini, karena semenjak SMP aku meneruskan sekolah di Padang dan kemudian Kuliah di Jakarta. Setahun yang lalu Ibu masih tinggal bersamaku di Jakarta, waktu itu ibu masih bersikeras tuk mendampingiku yang masih kuliah sambil berjualan di warung kecil yang kami sewa, dan akhirnya ibu pulang ke kampung atas permintaanku. Sungguh aku tak ingin Ibuku menuai hari tua di kota yang penuh dengan perjuangan itu. Aku ingin ibu benar-benar bisa istirahat di kampung halamanku ini, walau kami jadi jarang ketemu tapi aku berjanji akan sering mengunjunginya, dan tak jarang ibu yang datang ke tempat kost ku di Jakarta.

Sudut Dua Mata
“Assalamu’alaikum….. assalamu’alaikum…..”, belum terdengar sahutan, pintu rumah tidak di kunci, aku langsung saja masuk menuju dapur, ternyata ibu sedang memasak, “Assalamu’alaikum ibu”, “Feni…,? Kok gak kasih kabar dulu, kan bisa di jemput”, Tanya ibu kaget dan langsung memelukku, dengan penuh cinta ku cium tangan Ibu. Tak terasa bulir bening mengalir di pipiku, ketika menatap wajah lembut dan penuh kasih itu, rasanya sangat tak tega mengecewakan apalagi menyakitinya, wajah tulus yang selalu kurindukan, bahkan sangat ingin hati ini membahagiakannya “Sengaja bu, biar ibu tidak repot-repot”. Jawabku sambil menurunkan tas ransel ku, dan mengeluarkan oleh-oleh kesukaan Ibu“o ya Gimana Fen tentang tawaran dari ibu, udah di pikirkan matang-matang belum? ibu dah ga sabar pingin denger jawaban Feni“ , “duh ibu…. Feni kan baru sampai, nantilah ceritanya”. Balasku pelan seraya menuju kamar mungil yang udah lama ku tinggalkan. “Kemarin ibunya Fahmi datang lagi Fen, menanyakan jawaban Feni, ya ibu jawab saja, kalau Feni sekarang masih sibuk dengan pekerjaannya jadi belum bisa membuat keputusan, dan ibunya Fahmi berharap besar dengan Feni, kalau ibu seh terserah Feni saja, bagi ibu yang penting Feni bahagia, itu sudah cukup bagi ibu”. Suara Ibu yang biasanya meneduhkan hati ku itu sesaat terasa seperti genderang yang memekakkan telingaku, bahkan kepalaku mulai berdenyut, aliran darahku seakan bergerak semakin cepat, O Ibu seandainya engkau tahu kebimbanganku “Iya bu… tapi nantilah kita lanjutkan ceritanya ya…, Feni kan masih capek bu,Feni Istirahat dulu ya Bu“. “Iya, maafkan Ibu..Ibu terlalu Gembira melihat kamu pulang“ Ibu membelai lembut pipiku, aku hampir saja tak kuasa menahan Airmata yang membendung di sudut mataku, Aku memahami kata-kata ibu barusan, ibu sebenarnya bukan hanya ingin aku cepat menikah, tapi juga ingin dengan orang yang sekampung denganku, karena dengan demikian, aku akan bisa menghabiskan hari-hari di kampung bersama ibu, usia ibu sudah 55 tahun, kapan lagi aku akan berbakti pada ibu, Spontan aku teringat kembali dengan sosok itu, aku tidak tahu kenapa aku harus berharap padanya. Dia sahabatku, dia bahkan telah menjadi seorang kakak untuku, dan betapa berat ketika aku harus menerima kenyataan dia menjatuhkan pilihan nya lebih dulu dariku, hatiku benar-benar pedih aku merasa sangat kehilangan. Mengapa baru saat ini aku sadari, saat aku tak mungkin mengungkapkan semua. “Fen, Alhamdulillah kakak sudah menemukan pilihan hati kakak, Insyaallah Bulan depan kakak akan menikah, doakan ya..!“ kata-kata kak Fandi bagaikan petir di siang itu, hatiku terasa begitu sesak mendengarnya, Kak Fandi bahkan tak pernah cerita sedang taaruf, atau dekat dengan seseorang, dan tiba-tiba...
Kak Fandi adalah sahabat yang baik, bahkan ku anggap seperti kakak ku sendiri dia mengajarkan aku banyak hal dan sering membantuku dalam kesulitan tapi kebaikannya tak lebih dari kasih sayang seorang kakak kepada adiknya, aku pun tak menyangka kalau perasaan itu telah berubah dengan sendirinya di hatiku, dan aku baru menyadari ketika Kak Fandi menjatuhkan pilihannya, terasa perih sekali hati ini. Ya Robb apa yang ku rasakan? Harusnya aku bahagia di atas kebahagiaanya, harusnya aku senang karena dia telah menemukan teman perjuangannya. Harapanku telah pupus bersama pupusnya senyumku sore itu. “Kak afwan ya..aku ga bisa datang dipernikahan kakak nanti, karena ada tugas diluar kota yang ga bisa di tinggalkan untuk beberapa Minggu, semoga di beri keberkahan..“ itulah pesanku terakhir sebelum ku putuskan tuk tidak menemuinya lagi. Bahkan aku tak menghadiri hari yang sangat istimewa buatnya. Aku sungguh tak kuasa menahan pedihnya hatiku, aku tak mengerti kenapa aku sangat merasa kehilangan. Tak kuhiraukan kebingungan Kak Fandi dengan perubahan ku.

Sudut Kamar Mungil
Dalam kamar ini dulu aku tidur bersama kakakku, sekarang kakakku tinggal di Semarang, ikut suaminya, tapi sekalipun di Semarang kakak sering berkunjung ke kampung menjenguk ibu. Sejenak ku kenang masa kecilku, penuh liku suka duka bersama ayah dan ibu sewaktu ayahmasih ada. Banyak kenangan yang telah terukir, banyak nostalgia yang masih terngiang di kepala andai mereka semua tahu apa yang terjadi padaku saat ini. Ya Allah kenapa aku berada di antara dua hal yang sulit untuk ku putuskan, antara dua hati yang pernah memberiku nasehat tentang hidup, antara dua hati yang selalu saja membuatku berarti juga kadang kecewa. Antara dua hati yang mengajarkan aku semakin kenal baik dengan diri ini. Ya Allah, kali ini aku tidak ingin mengecewakan ibu, aku ingin berbakti pada orang tuaku, aku ingin melihat mereka dan keluargaku bahagia, aku tidak ingin mengikuti nafsu yang sedang bermain dalam hatiku. Tapi…. duh Robb, bagaimana…. Engkau yang tahu semuanya, sungguh sulit hati ini untuk memutuskan, akankah ku kecewakan ibu tuk kesekian kalinya, atau aku hentikan anganku dan berusaha menjadi istri yang terbaik bagi suamiku. Selang dua rakaat shalat istikharah, aku tertidur di atas sajadahku.
“Fen, bersabar itu baik,.… bersyukurlah dengan nikmat Allah ini, kenapa harus menunggu orang yang sudah tidak di takdirkan untukmu, kenapa Fen….,. Apakah Feni akan selamanya seperti ini, tenggelam dalam angan yang tak pasti, Ingat Fen waktu akan terus bergulir menggilas siapa saja yang tak siap dengan kenyataan, dan tak ada toleransi dengan penyesalan. Apa yang feni pikirkan adalah bisikan syetan semata, karena memikirkannya pun suatu dosa, dia bukan hak mu Fen, dia bukan siapa-siapa.
”tapi Vi..sulit sekali melupakan perasaan ini, aku juga ga tahu mengapa aku berharap dia yang menjadi calon suamiku, bukan pilihan ibu..”
”Feni sayang, apa yang kita anggap baik belum tentu baik buat kita, begitupun sebaliknya. Fandi bukan siapa-siapa, dia cuma manusia biasa fen, tak pantas untuk kau kagumi seperti itu, kagumilah Dia yang memberikan segala kelebihan padanya, dan Fandi sudah menentukan pilihannya dan itu bukan kamu. Masih kah kamu pertahankan perasaan yang kamu simpan itu?
”Vi, aku ngerti, Kak Fandi takkan pernah memilihku, tapi tidak dengan hati ini Vi, aku takut nanti mengecewakan suamiku karena tak bisa mencintainya dengan tulus, karena di hatiku masih ada orang lain.
”Allah akan menolong orang yang bersungguh-sungguh menolong agamanya, Niatkan semua karena Allah, niatkan mencintai karena Allah, yakinlah Dia akan memilihkan yang terbaik untukmu. Kekaguamanmu pada Fandi hanya kekaguman fisik yang kasat mata, sementara banyak hal yang tidak mampu kita lihat, jika Allah tidak menakdirkan dia untukmu mungkin dia bukan yang terbaik ...”
Feni yang baik percayalah… Feni pasti bisa”. Tiba-tiba aku tersentak dari tidur, ku lihat masih pukul 2.30... Astafgfirullah mimpi apa aku barusan, apakah ini jawaban dari shalat istikharahku, ya Allah… aku bermimpi bertemu Vivi sahabatku yang sedang kuliah di Sudan dan memberikan nasehat padaku, apakah mimpi barusan petunjuk untukku? Benarkah ya Robb? Benarkah sudah saatnya bagiku untuk maju dan tidak menoleh ke belakang lagi? Benarkah semua ini harus ku hadapi dengan perasaan yang masih bimbang? Benarkah aku bisa melupakannya begitu saja? Benarkah aku akan bisa diam dan membuang perasaan itu jauh-jauh dari hidupku? Benarkah aku akan bisa melakukannya? Duh Robb… ampuni hamba.

Sudut Dua Hati
“Fen.. udah bangun nak?? Ibu memanggilku dari luar kamar, udah jam 6”. “udah bu…” aku menyahut dari dalam sambil membuka pintu kamar. “Bu insyaallah bu…” “insyaallah apa?” Tanya ibunya penasaran. “ya… yang penting insyaallah lah…” canda ku yangmembuat Ibu semakin penasaran. “iya.. tapi insyaallah apanya?, mimpi apa kamu tadi malam, tumben wajahmu ceria begini?” “insyaallah lamaran Fahmi Feni terima”. “ibu gak mimpi kan Fen??” “tidak bu…”jawabku sambil mencubit tangan kiri ibu dan mencium keningnya. Wajah ibuku berseri-seri, tak sabar hati ibuku langsung mengabari kakakku yang berada di Semarang, juga keluarga Fahmi.
***
“Ya Robb, jika memang dia yang kau pilihkan untukku, bukakan jalanku tuk melangkah dalam naungan ridhoMu, mantapkan hati tuk memilihnya, mendampinginya..bantulah aku tuk mencitainya karenaMu, bantulah aku tuk mengapus rasa yang “tidak halal” untuk ku. Jika dia tidak sempurna jadikan aku penyempurna baginya, satukan kami dalam niat suci ingin mencintai karenaMu, ingin berjuang bersama di jalanMu. Jadikan aku kelak pelabuhan terindah untuk nya..seorang istri yang solehah”. Seiring akhir doaku malam ini, butiran bening semakin deras membasahi sajadahku. Ku terhanyut dalam sujud panjang menyadari semua kesalahan, khilaf, dosa diri, dan berharap cahaya terang dengan langkahku yang akan datang. Robbku…Hanya Engkaulah sebaik-baik penolong..

~ Kepak Sayap Merpati ~


Arin berdiri mematung di halte bus itu, sesekali menyeka air hujan yang menetes dari langit-langit halte yang mengenai jilbabnya. Sudah hampir setengah jam Arin berdiri di halte itu tapi bus yang di tunggunya belum juga muncul. Dari sudat matanya Arin menangkap sosok kecil yang tampak sedikit kedinginan di pojok halte itu. Sedikit demi sedikit Arin merapatkan langkah mendekati bocah kecil itu. Umurnya tak lebih dari 7 tahun dengan berbalut kaos oblong coklat kucel dan celana panjang yang sudah usang. Bocah itu masih asyik dengan gitar kecilnya seakan sedang meghibur dirinya, tak dia hiraukan air hujan yang sesekali menimpa wajahnya. Pun dia sangat tak acuh ketika Arin memperhatikan nya dengan seksama.
”Dek sendirian?”
”yup” jawabnya cuex bahkan tak melirik sedikitpun.
”tinggalnya di mana?”
”di sana jauh” dengan acuh akhirnya dia mengalihkan pandangan nya ke arah Arin. Arin menatap wajah itu bibirnya tampak pucat, karena rambut dan bajunya yang sedikit basah. Arin mengambil sapu tangan kecil dari dalam tas nya.
”dek rambutnya keringin tuh” Arin menyerahkan sebuah sapu tangan tapi anak itu hanya menggelang tanda penolakan. Akhirnya arin pun memasukkan kembali sapu tangannya. Tapi rasa penasaran Arin tak jua reda, walau di acuhkan dia masih aja ingin bercengkrama dengan bocah kecil itu.
”Hm..nama dek siapa?”
”Arul”
” nama yang bagus...masih sekolah?”
”ga” jawabnya singkat.
”tinggal sama orang tua?”
”ga”
Tiba-tiba bus yang di tunggu Arin melintas di depannnya. Buru-buru Arin ingin mengejar bus itu, tapi tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas nya danmenyerahkan pada bocah kecil itu. ”ini alamat dan no telp kakak, kalau ada apa-apa hubungi kakak ya..”
Anak itu hanya mematung mengambil sebuah kartu nama yang di berikan sambil menatap kepergian Arin. Dengan langkah sigap Arin segera naik ke dalam bus patas itu, tubuhnya yang tinggi langsung menyeruak di antara puluhan penumpang lainnya yang memadati bus itu.

***
“Kita sholat Jamaah dulu yah nanti baru makan malam…Hayoo sekarang pada siap-siap ambil air wudlu ..
“Dimas nanti giliran jadi Imam ya..”
“dan Arul yang iqomah .”
Hanya beberapa menit anak-anak itu sudah berkumpul kembali, ada lima orang anak tiga laki-laki dan dua perempuan rata-rata umur mereka antara 6 sampai 9 tahun. Mereka segera mengatur Shaaf setelah di arahkan oleh Arin.
“Ayu sini sayang, rambutnya masih keliatan tuh, Arin berjongkok membenarkan mukena gadis kecil berusia 7 tahun itu. Setelah selesai sholat Arin menyuruh anak-anak untuk membereskan mukena dan sajadahnya.
“Bi Siti makanannya sudah Siap ya?” tanya Arin sambil melongokkna kepalanya ke dapurnya yang sempit di rumah kontrakan itu
“iya sudah Neng..”kata Bi Siti sambil mengelap piring-piring.
”ya udah, kita makan dulu yuk Bi, kasian anak-anak sudah pada laper tuh”
”iya neng sebentar ya bibi beresin ini sebentar”
“anak-anak waktunya kita makaaaaaaaaan…!” seru arin yang langsung di ikuti oleh langkah ceria anak-anak itu. ”Asyiiiik..!!”
”hayo, Adi pimpin doa dulu”
Selesai berdoa mereka segera menyerbu masakan sederhana yang di hidangkan bi Siti, tak ketinggalan Bi siti pun ikut makan bersama-sama mereka. Tampak keceriaan di wajah-wajah kecil yang lelah itu.
“ kak Arin, kenapa kita harus colat cih” tanya Upik yang masih cedal selesai makan, seperti biasa mereka berdiskusi sebentar di meja makan sebelum mereka mengaji
“Biar lebih di sayang Allah” kata Arin sambil tersenyum menatap wajah polos bocah berumur enam tahun itu.
“kak ARin, apa Allah juga sayang sama Ayu?” tiba-tiba Ayu bertanya serius, Arin menatap lembut sambil membelai rambut bocah kecil yang duduk di sampingnya itu “Tentu sayang..Allah sayang sama kita semua apalagi kalau kalian rajin sholat dan mengaji..”
“tapi kalau Allah sayang sama Adi kenapa Allah mengambil Ibu Adi kak..?” tanya bocahberusia delapn tahun itu dengan raut muka yang memelas.
“Adi…kan ada kakak di sini, anggap kakak ini pengganti orang tua kalian, walau kakak tidak sebaik mereka, Allah mempertemukan kita, memberi kita makan, minum, memberi kita kesehatan, fisik yang sempurna itu buktinya Allah Sangat sayang sama kita. Coba adi perhatikan temen-temen Adi yang tidak bisa melihat, ada yang tidak bisa mendengar, ada yang tidak bisa berjalan, tapi mereka pun senantisa bersyukur kepada Allah, karena Allah tidak memandang siapa kita, bagaimana bentuk rupa kita tapi hanya melihat ketaatan kita, dan kelak kita akan bisa merasakan kasih sayang Allah yang lebih dekat lagi kalau kita bisa masuk surga”
“gimana agar kita masuk surga ya kak?” tanya arul yang ikut nimbrung
“Arul harus rajin sholat, mengaji, tidak menyakiti teman, dan mendoakan orang tua arul”
Hayoo..sekarang ambil Iqronya ..waktunya kita ngaji ya..
Arin mengajari mereka mengaji satu-persatu, memang malam ini adalah jadwal Arin mengajar. Dan malam-malam yang lain ada beberapa temen Arin yang bergantian meluangkan waktunya membantu mengajar mata pelajaran umum mulai dari membaca, menulis sampai belajar matematika dan bahasa ingris.

Baru genap lima bulan Arin menampung anak-anak itu di rumah kontrakannya, bersama bu Siti Khodimatnya Arin mengurus makanan dan tidur mereka. Mereka adalah anak-anak jalanan yang tidak punya orang tua lagi. Tidak semua anak jalanan suka hidup teratur seperti ini ada beberapa yang kembali ke lingkungannya karena tidak bisa mengikuti pertauran yang di terapkan seperti sholat berjamaah, mengaji, belajar bahkan Arin sudah mulai mengajarkan mereka untuk sholat tahajud.

Arin belum tahu apa yang akan di lakukan untuk masa depan anak-anak ini selanjutnya, selama ini dia hanya menampung mereka, memberi makan dan menyediakn tempat tidur, sedang mereka masih beraktivitas seperti biasanya yaitu menyanyi di jalanan. Dan berkat beberapa bantuan teman Arin bisa membekali mereka dengan sedikit ilmu, seperti mengajarkan mereka membaca, menulis, dan mengaji. Karena sebagian dari mereka belum mengenal sekolah sama sekali.
Dalam benak Arin berfikir keras bagaimana agar bisa menyekolahkan mereka atau mungkin mendirikan yayasan yang setara dengan sekolah yang di akui legalitasnya tapi Arin tahu itu perlu perencanaan yang panjang dan dana yang tidak sedikit. Sedang Arin pun masih harus bertahan hidup di jakarta dengan hasil jerih payahnya sendiri. Tapi Arin tetap bertekad suatu saat bisa menjadikan anak-anak ini generasi yang pintar dan bermanfaat. Dan tekad Arin adalah memasukkan mereka ke sekolah atau mendirikan sekolah agar mereka memiliki jenjang pendidikan yang sama seperti anak-anak lainnya. Arin belum tahu dari mana dia akan mendapatkan biaya untuk itu, tapi dia yakin bahwa suatu saat Allah akan menolongnya. Saat ini dia mulai mengajarkan anak-anak ini untuk menabung sebagian hasil mengamennya untuk tambahan biaya kalau kelak mereka sekolah, dan Arin pun giat mengumpulkan buku-buku koleksinya dan sumbangan dari teman-temannya dan telah berhasil membangun sebuah perpustakaan mini untuk mereka.

***
Arini tersenyum bahagia melihat mereka bercanda-ria di dalam rumah kontrakannya yang sempit itu. Meski dengan segala fasilitas yang serba terbatas tapi Arin sangat bahagia bisa tinggal bersama mereka. Arin sangat bersyukur mendapat kepercayaan dan kesempatan untuk menampung mereka. Mimpi Arin masih panjang, Arin ingin suatu saat anak-anak ini sejajar atau bahkan lebih maju dari teman-teman mereka yang masih mempunyai orang tua. Lebih cerdas dari mereka yang hidupnya berkecukupan. Arin sangat yakin bahwa Allah akan membimbingnya, menemukan jalan untuk masa depan mereka.

Jakarta 15 Maret 2007
Alzrie

Reyna (terinspirasi dari sebuh cerpen yg ku baca)


Reyna

Sudah tiga hari ini aku melihat Reyna tampak murung, bahkan seperti enggan keluar dari kamarnya, tidak seperti biasanya dia masih sering ngobrol denganku menjelang tidur. Ntah apa yang sedang ada dalam pikirannya tapi seperti banyak sekali beban yang sedang di tanggung nya.

Reyna adalah teman kost ku, baru sekitar setahun ini aku mengenalnya, seorang yang cukup ceria, selalu sopan dalam bertutur dan sangat jarang marah atau berkata kasar, tapi Reyna termasuk gadis yang tertutup, dia jarang bercerita tentang pribadinya, sehingga sedikit sekali yang ku tahu tentang nya, yang ku tahu dia seorang karyawan di sebuah kantor yang bergerak di bidang furniture, dan kadang dia suka keluar kalau malam minggu, tapi aku pun tak tahu kemana dia pergi dan sama sekali bukan urusanku. Hati ini tergelitik tuk tahu banyak tentang gadis itu tapi aku urungkan niatku untuk bertanya hal-hal yang bersifat pribadi karena dia tampak tak mau membuka diri.

Tapi perubahan sikapnya membuatku gundah, dan seakan sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi padanya, aku seperti tak tahan melihat wajahnya yang selalu murung akhir-akhir ini, dan matanya tampak berembun menyimpan kesedihan, Oh Reyna..andai kau ijinkan aku membantumu, atau hanya sekedar menjadi teman untuk menceritakan bebanmu. Aku tak rela jika kau akanmerasakan apa yang pernah terjadi padaku

Sedikit nekad ku coba menegur nya dan mengajaknya main ke kamarku yang hanya beberapa meter dari kamarnya, rasa penasaranku kian menjadi setelah seminggu tak ku temui keceriaan di wajah nya. Dan sungguh di luar dugaan dia masihmau masuk ke kamarku. Seperti biasa aku sedang asyik dengan kompurterku, akhir minggu ini tinggal satu bab lagi dari Novelku yang harus aku selesaikan. Tak ku sangka hal yang menyedihkan membuatku lebih kreative. Tapi bukan itu masalahnya, cerita itu seperti tak pernah habis bahkan tek pernah lepas satu detik pun dari otakku. Hingga semua karyaku bernuansa yang sama.

“sudah makan? “ tanyaku sambil terus mengamati hasil ketikanku. ”gi males mbak..Reyna ga ada selera makan..” ku palingkan wajahku sesaat tuk menatapnya, ku lihat dia hanya menunduk menatap ujung2 bajunya. ”patah hati ya? ” tanyaku hanya menebak aku seperti terbiasa dengan kasus seperti ini di setiap ceritaku. Dan Reyna mengangguk, namun tetap tak berkata. ”kenapa? dah taaruf ga jadi?, ortu ga setuju? Atau...” aku menggantungkan kata-kataku karena takut Reyna tersinggung dengan pilihan terakhir, karena cerita ini sangat akrab sekaligus memilukan ”bukan..tapi salah langkah” jawab Reyna sedikit serak. ”Oh...sudah ada yang punya..” jawabku seolah dah tergambar jelas alur cerita Reyna dalam bayangan ceritaku. ”Iya...dan aku mencintainya..” hatiku seperti tersentak tapi seakan tergambar jelas peristiwa yang memilukan itu. ”kenapa mencintainya kalau tahu dia sudah beristri” tanyaku seakan ingin mendapat jawaban dari pertanyaanku yang sama. ”aku ga tahu mbak benar-benar ga tahu bagaimana awalnya, tapi aku sungguh mencintanya bahkan aku menolak beberapa lamaran yang datang padaku”. Aku menghela nafas, dua tahun yang lalu peristiwa itu masih segar dalam ingatanku, Reyna andai kau tahu hal ini pernah ku alami, suatu hal yang sangat bodoh ketika kau mengagungkan perasaan, kau akan hancur seperti aku. Bisikku dalam hati. ”dan dia juga mencintaiku mbak” lanjutnya ”tapi sebagai wanita baik seharusnya kau tak menerima tawarannya karena dia sudah punya Istri apapun alasannya” kataku seperti berdiri di balik topeng, dan menirukan kata-kata seorang wanita yang datang padaku saat itu. ”semua memang kesalahan mbak, tapi kini aku ingin sangat membencinya..” lanjut Reyna setengah terisak ” kenapa? kau sudah jenuh karena tak ada ujung yang pasti kan?” ”bukan hanya itu mbak, dia bahkan menghilang setelah peristiwa menyakitkan ku alami” Reyna kian larut dalm kesedihannya, ku lihat mata bening itu kembali berembun. ” istrinya mendatangiku, mencaci, memaki, dan...aku seperti tak berdaya mbak, dan...ketika aku terpuruk seperti ini, dia pun ikut menghilang..”
Ku ulurkan tanganku tuk membelai rambut Reyna,” begitulah laki-laki, To much love will kill you..pepatah ini memang benar, terkadang memang begitu berat saat harus meninggalkan cinta, tapi lebih berat jika harus di paksa meninggalkan cinta” Reyna semakin terisak, dan sudut hatiku pun mulai terkoyak, luka merah di hati inipun belum jua kering, aku juga ingin melupakannya..ya aku harus melupakannya bukankah dia pun tak jauh beda walau tak menghilang tak sepengecut pacar Reyna, tapi apa bedanya jika membiarkan aku seperti ini, bukankah semua berawal dari ketidak pengetahuanku..ah tapi aku yang bodoh.

***
Peristiwa dua tahun yang lalu, awal dari hancurnya kepingan hati yang rapuh ini, saat seseorang yang begitu asing menemuiku di kantor, dan mengajakku makan siang. Sosok yang anggun, berwibawa, dan tanpak cerdas, secerdas kata-katanya yang sanggup melemparkan aku ke dalam kesadaran sekaligus kehancuran. ”kenalkan namaku Indah istrinya mas Bayu , adek yang bernama Rindu kan? ” aku hanya mengangguk melihat sosok cantik di depanku seindah namanya dan kata-katanya. ”aku sudah tahu hubungan adek sama Mas Bayu”.aku tersentak tapi tetap tak berkata-kata. ”Aku tahu adek wanita yang baik, tapi sebagai wanita baik seharusnya adek tidak mendekati mas bayu, apapun alasannya” kata-kata ini begitu apik di susunnya bahkan sangat berusaha sesantun mungkin tapi terasa bagai sembilu yang menikam tepat di lubuk hatiku. Kata ”baik” yang sangat tak pantas dan hanya sebagai pengganti kata ”perusak” yang terkesan dari kata-katanya yang tertahan. ”awalnya saya tidak tahu, kalau mas bayu..” aku tak meneruskan kata-kataku, ketika ku lihat wanita itu tertawa ringan. ”tak tahu kalau sudah beristri?, tapi kenapa adek teruskan setelah tahu?” kata-katanya masih dengan wibawa dan di tekan selembut mungkin, namun ku rasakan kian dalam menikam di jantungku. Aku tak bisa berkata-kata seakan semua pembelaan hanya sia-sia karena memang aku salah. ”dek Rindu mencintai Mas Bayu?” aku terhenyak dengan pertanyaan ini, tapi tak pelak aku pun mengangguk. Dan ku lihat dia tersenyum, entah apa arti senyum itu. ”kata orang cinta itu rela berkorban apapun kan?, dan begitu juga cinta dek sama mas bayu?” kata-kata nya seakan tak membiarkan aku sedikitpun tuk bernafas.
”dek..mas Bayu itu orang yang terhormat, banyak di idolakan, di sanjung di masyarakat kami, meraka sungguh tak siap kalau harus menyaksikan fakta bahwa mas Bayu mencintai adek yang bukan istrinya, dan Mas Bayu tak mungkin menikahi adek, karena itu maukah adek berkorban tuk mas Bayu?” aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, yang lebih ku anggap permintaan dari pada pertanyaan, aku hanya menunduk seakan seorang pesakitan yang sedang di adili. ”tolong dek..tinggalkan Mas Bayu, kami semua sangat mencintainya..aku tak ingin keluargaku dan kelurga Masa bayu tahu tentang semua ini, adek juga ga ingin karir mas Bayu hancur kan?, adek juga pasti masih punya rasa kasihan pada Fahmi anak kami yang akan sangat terpukul kalau tahu semua ini” aku tak tahan mendengar kata-kata wanita cantik di hadapanku ini, ingin rasanya aku berlari jauh tak ingin lagi mendengar semua yang di katakannya. ”sekali lagi aku minta tolong dek..tolong jangan pernah hubungi Mas Bayu lagi..dan mungkin mulai saat ini Mas Bayu pun tak akan menemui adek lagi, semua akan kembali baik, dan terselesaikan kalau adek mau menyadari kesalahan ini” kata-kata itu begitu tegas, lugas dan membabat habis harga diriku. Aku bak seorang narapidana yang sedang menghadapi hukuman pancung, terasa kepala ini lepas dari badanku. Bagaimanapun aku tak ingin menyalahkan wanita ini, karena memang dia tak salah, bahkan sudah terlalu baik dengan sikap lembutnya, bukankah dia tak mencaciku, tidak marah padaku apalagi menghardikku? Bukankah dia juga terlalu baik masih menyelamatkan namaku, dengan tak membiarkan teman-teman kantorku tahu tentang semua ini? Bahkan dia menjabat tanganku, mencium ku sebelum dia pergi dan kembali berbisik..”aku benar-benar minta tolong sama adek, aku yakin adek wanita yang baik”.

Aku hanya diam mematung menyaksikan wanita itu pergi, kulihat langkah nya yang pasti dan penuh percaya diri, yah dia memang wanita yang baik, sopan dan yang pasti tidak jahat seperti ku. Darahku seakan berhenti mengalir, tulangku terasa remuk tak mampu ku berdiri hanya airmata yang kian deras mengalir di pipiku. Dan kurasa sesak nafasku, perih yang teramat sangat menikam di hati ini, seakan hati ini terbelah menjadi dua dan di siram dengan air cuka. Aku tak tahu apa yang harus ku perbuat tapi satu hal yang harus ku lakukan, pergi sejauh mungkin dari Mas bayu.

Dengan sisa tenaga akhirnya aku sampai di tempat kostku, segera ku kemasi baju-bajuku, aku tak tahu harus pergi kemana hanya aku harus meninggalkan kota ini sejauh-jauhnya. Ku tinggalkan pekerjaanku, teman-temanku tanpa alasan ku ungkapkan pada mereka. Dan sejak saat itu ku tak mau menginjakkan kakiku di kota itu, dan semua memang berakhir, dan ku mulai sesuatu yang baru di kota ini. Sejak saat itulah ku mulai kesendirian ini, ku tak ingin lagi berfikir tentang hati ini, tak ingin lagi berfikir tentang cinta, aku harus menebus kesalahan ku dengan perih yang bertahun-tahun ini. Dan sejak saat itu komputer adalah teman kesepianku, aku mengabiskan hari-hariku dengan menulis. Dan lambat laun aku bisa menemukan pekerjaan baru, namun aku tak pernah meninggalkan hobbyku menulis karena hanya ini caraku menghibur hati ini. aku merasa bebas dan lepas dengan segala ekpresi tulisanku.

***
Ku peluk Reyna yang terisak di pelukanku, ntah karena kesedihannya atau karena kepedihanku sendiri akupun tak kuasa menahan bulir bening yang menetes sampai ke sudut hatiku. Ku coba menghibur Reyna, ku tahu dia telah berlaku bodoh sebodoh diriku saat itu. ”Reyna, hidup ini adalah pilihan kemana kita akan melangkah dan kemana kita kan menuju kitalah sang nakoda biduk kehidupan ini. Cinta memang sangat berarti tapi cinta bukan segalanya. Adakalanya kita harus merasakan sakit, pedih, dan ada kalanya pula kita akan merasa senang dan bahagia. Sangat di damba jika kita bisa bersama orang yang kita sayangi, tapi sangat tak bijak jika semua itu kita lakukan di atas derita orang lain. Percayalah masih ada mentari di ufuk sana, tinggalkan semua cerita itu. Reyna tak bisa mengingkari kenyataan bahwa dia bukan untuk Reyna. Ada saatnya kita harus berkorban, ada saatnya pula kita harus di korbankan. Semua akan berlalu jika Reyna yakin bahwa Reyna bisa atasi semua, mulailah dengan harimu yang baru, semangat baru, dan kehidupanmu yang baru, buang jauh-jauh harapanmu. Kelak Reyna akan menemukan jawaban bahwa ada yang jauh lebih baik dari pada dia yang telah Dia persiapkan untukmu. Sadarilah bahwa ini kesalahan.

Aku seakan sedang berbicara pada diriku sendiri, menggurui diriku sendiri dan meresapi kisahku sendiri. Seiring tangis Reyna yang mereda, ku usap sisa airmata di pipinya, aku bisa merasakan kesediahan yang kini dia rasakan. Tapi ku melihat sekilas senyum di wajah manis itu. ”life must go on no matter what..so be strong ok?”bisikku memberi semangat. “terima kasih mbak, Reyna akan jalani semua ini dengan ketegaran, setegar mbak Rindu” aku hanya tersenyum tipis mendengar kata-katanya yang lebih tepat menyindir itu. “kita harus menjadi wanita tangguh, jangan pernah menyerah”. Kembali ku belai lembut rambut Reyna yang ku anggap seperti adek ku sendiri ini, dan ntah merasa senasip atau memang aku mulai tegar, akupun merasa bebanku sedikit berkurang. Yah aku harus tegar..aku wanita tangguh. Hiburku dalam hati..

Zrie