Tampilkan postingan dengan label opinions. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opinions. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2009

“Exsistensi Perempuan”

Berita KOMPAS kemarin menurunkan salah satu berita tentang laporan hasil pemantaun Komnas Anti kekerasan terhadap perempuan tentang masih besarnya tingkat diskriminasi terhadap perempuan dalam kebijakan daerah [Perda].

***
Sampai detik ini term “diskriminasi” tampaknya masih menjadi term paling popular dalam isu kesetaraan gender. sejatinya perbedaan dua kutub lelaki dan perempuan sudah menjadi perdebatan sejak berabad-abad lalu. dan selama ini, sejarah peradaban perempuan memang dihadapkan pada dua realitas yang sangat kontras. realitas pertama adalah keterasingan perempuan dari pentas existensinya yang dapat kita lihat dalam sejarah di berbagai belahan bumi dan yang terparah adalah di zaman Jahiliah, dimana perempuan tidak punya hak sama sekali, baik hak suara, hak waris bahkan hak untuk hidup, sedang realitas kedua adalah realitas liberal dan permisif (serba boleh) dimana perempuan diberi kebebasan sebebas-bebasnya.

memang fakta bahwa sampai sekarangpun masih banyak perempuan yang terjajah secara intelektual dan secara kultural. sebagian besar perempuan indonesia khususnya, masih sulit untuk memperoleh pendidikan, bukan hanya karena faktor ekonomi tetapi juga konstruk sosial yang masih melekat di masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk domestik yang tak lepas dari tugas DSP (Dapur, Sumur, Kasur) sehingga pendidikan di anggap tidak begitu penting bagi perempuan.

kondisi ini juga yang kemudian memunculkan opini baru yang berkembang di masyarakat. satu opini ‘extrem’ tentang emansipasi yang menganggap perempuan yang bekerja di rumah adalah inferior, sekunder dan marginal sehingga ‘mewajibkan’ perempuan untuk berperan aktive di public sphere. menurut saya ini adalah konsep ‘emansipasi’ yang berlebihan.
dan sepertinya permasalahan tentang eksistensi perempuan masih akan menjadi sejarah panjang selama masih ada pihak yang merasa ‘the domninee” dan ada yang merasa sebagai ‘the dominator’. namun saya hanya akan merefrensikan beberapa hal berkenaan dengan penghargaan exsistensi perempuan dan mengeliminir stigma ataupun bias stigma ‘inferior’ pada perempuan:

1. Self awareness
penghargaan pada perempuan harus di mulai dari kesadaran pada diri perempuan itu sendiri, hal ini harus di mulai dari kesadaran perempuan akan pentingnya eksitensi dirinya, bahwa keberadaan perempuan adalah organ yang vital dalam sirkulasi kehidupan di bumi ini. karena dari rahim perempuan lahir tokoh2 pembangun dunia, juga dari rahim perempuan bisa lahir tokoh penghancur dunia, perempuan adalah makhluk yang menempati posisi paling stategis dalam pembentukan generasi di bumi ini. dengan kesadaran ini maka perempuan akan merasa sangat berarti keberadaannya terlepas dari peran apapun yang di jalaninya. disini juga perlu konstruksi pemahaman peran, bahwa peran alami yang di berikan kepada perempuan sebagai ibu rumah tangga bukan lah peran yang inferior tapi justru peran yang signifikan.

2. Self empowerment
pemberdayaan ini pertama2 harus di sentuh dari segi pendidikan (dalam konteks pendidikan yang tidak dikotomis). setelah menyadari keberadaannya maka perempuan mulai menyadari tugasnya dan mulai menyusun strategi untuk melaksanakan tugas tsb. karena itu menurutku pendidikan perempuan sangat lah penting bukan dalam rangka ingin ‘merebut’ posisi laki-laki di berbagai bidang tapi justru untuk memantapkan peran strategisnya yang utama sebagai seorang generation creator, first educator, sampai menjadi pillar of Nation. dengan pendidikan juga akan menaikkan posisi tawar (bargaining power) perempuan dalam rangka mendekonstruksi stigma ‘ketidak berdayaan’ perempuan.

3. Self Appreciaton
hal ini penting, karena sering kali perempuan justru mendekonstruksi kediriannya dengan caranya menghargai dirinya. saat ini ketika bicara tentang perempuan, tidak akan pernah jauh dari hal2 yang bersifat kebenda’an, seperti penampian fisik, kecantikan, etc. lihat saja majalah, koran, atau media elektronik, hampir setiap detik setiap waktu akan di hiasi oleh wajah cantik perempuan dengan berbagai style yang sebagian besar berhubungan dengan entairtainment, atau advertisement yang mengagungkan fisik perempuan. di media jarang sekali perempuan di tampilkan karena prestasinya, karena kepandaiannya, atau kecerdasaannya, kalaupun ada porsinya masih sangat kecil. memang ini sumbangsih konstruksi sosial tadi yang melahirkan exploitasi perempuan secara samar. tetapi hal ini juga berawal dari sisi si perempuan sendiri yang senang jika di hargai karena faktor fisiknya, bukan karena potensinya. di sinilah perlu di tanamkan self appreciation, atau penghargaan pada diri sendiri, bahwa perempuan di ciptakan bukan sebagai ‘magnet pemikat’ yang suka di ekpolitasi bagian2 fisiknya tetapi perempuan juga harus menghargai dirinya sebagai aset berharga bagi peradaban dunia ini dengan kemampuannya potensinya dan prestasinya.

4. Rekonstruksi makna “Emansipasi”
emansipasi saat ini telah menjadi term favorit bagi perempuan. bahkan segala hal yang terkesan ‘nyeleneh’ yang di lakukan kaum perempuan hanya cukup di jawab dengan kata emansipasi, seperti “ini emansipasi Loh..!!” sehingga term ini seakan menjadi benteng bagi kebebasan perempuan dalam menisbatkan segala tuntutan kesetaraan yang sering kali berlebihan. term ini sudah lama merasuk jiwa perempuan yang merasa dirinya terbelenggu dalam keterbatasan, sehingga tidak mungkin untuk di hilangkan. namun makna ini perlu di ‘rekonstruksi’.
emansipasi harus di maknai sebagai usaha untuk memaksimalkan potensi perempuan yang merupakan bagian dari khalifah di bumi ini seperti halnya laki-laki tanpa harus menanggalkan fitrah yang telah di berikan Allah kepadanya.

perempuan bisa jadi peneliti, politisi, akademisi, tanpa harus melepas tanggung jawab kediriannya sebagai ‘perempuan’, seperti menjadi ibu rumah tangga atau pendamping setia untuk perkembangan anak-anaknya. jika ini di anggap sebagai double burden maka perlu di pertanyakan seperti apa perempuan ingin di akui eksistensinya, apakah harus bertukar posisi, lelaki yang mengandung dan melahirkan? tentu mustahil. artinya perempuan juga harus proporsional, konsisten dan bertanggung jawab dengan pilihannya.

di muat di www.warnaislam.com

“Antara Caleg dan Cover Boy”

Caleg dan Cover boy. Sekilas dua istilah ini tampak hampir tidak ada hubungannya, caleg berhubungan dengan dunia politik dan cover boy berhubungan dengan dunia entertain. tapi jangan salah jika saat ini dua jabatan ini bisa berhubungan erat, tidak hanya karena banyak mantan cover boy/ girl yang kini ‘banting stir’ mencalonkan diri jadi caleg tetapi ternyata para caleg pun sekarang ini meniru gaya kampanyenya cover boy/girl. ;)

Lihat saja di sepanjang jalan khususnya ibukota Jakarta tercinta ini yang penuh sesak dengan poster2 atau gambar2 caleg yang mengiklankan dirinya dari mulai pamflet sampai baliho yang super besarpun tak ragu-ragu lagi di pasang demi ‘menjual’ nama si caleg.

Hal ini tampaknya mirip dengan kampanye pemilihan cover boy/girl yang memang mengutamakan sisi physical performance – jadi wajar klo kampanye mereka pasti majang foto super bagus. bedanya kalau poster Caleg hanya di tambah dengan kata-kata ‘rayuan’ di bawah atau di samping foto caleg tersebut seperti: jujur, amanah, peduli, memperjuangkan rakyat dsb.

Padahal rakyat memilih caleg tentu bukan karena tampangnya. mau ganteng, cantik, tampan atau biasa saja bukan masalah asalkan bisa membawa aspirasi rakyat. maka jika di analogikan dalam dunia marketing, strategi marketing para Caleg ini bisa di bilang kurang tepat. karena produk yang di butuhkan dan iklan yang di pajang tidak Matching. Tidak seperti ajang pemilihan Cover boy dimana titik berat penilaian adalah penampilan fisik, dalam ajang pemilihan caleg yang di butuhkan masyarakat sesungguhnya adalah program konkrit mereka bukan tampang dan kata-kata manis yang sering kali hanya lip service saja.

Memang ada juga ajang promosi melalui debat caleg yang di selenggarakan beberapa media masa seperti TV dan radio namun jumlah caleg yang berpartisipasi dalam acara itu tidak seberapa bahkan mungkin tidak sampai 20% nya. Dan beberapa kali saya mengikuti acara tersebut ternyata banyak caleg yang masih dalam tataran ‘klise’ dalam menjawab pertanyaan panelis tentang program-program yang di agendakan jika mereka terpilih. tidak tahu apakah hal ini karena caleg tersebut mengalami stage fever atau memang belum merumuskan secara pasti agenda program jika terpilih nanti.

Rasanya rakyat sudah bosan dengan berbagai janji-janji yang selalu di berikan oleh para caleg ataupun partai politik tiap kali kampanye menjelang pemilihan. Tak bijak jika ‘pembodohan publik’ ini di biarkan terlalu lama berlangsung dan sudah saatnya di akhiri dengan ‘pencerdasan publik’ dalam kampanye.

Kita memerlukan konsep kampanye yang ‘cerdas’, misalnya dengan memasarkan agenda program aplikatif para caleg secara singkat [disamping nama dan gambar seperlunya] sehingga rakyat bisa menilai dan memilih sesuai dengan program yang di agendakan bukan dari tampang yang di paparkan. Karena banyak dari rakyat yang sama sekali tidak tahu siapa mereka (caleg), tapi setidaknya rakyat butuh gambaran ‘tindakan’ yang akan mereka lakukan jika terpilih. dan sekali lagi rakyat tidak sedang memilih calon-calon cover boy/girl yang hanya bisa kami dinilai dari tampilan fisiknya.

di muat di http://www.warnaislam.com/

Selasa, 09 Desember 2008

~ Franz Fanon, Black Skin White Mask ~

Black Skin White Mask adalah adalah sebuah buku yang di tulis oleh Frantz Fanon pertama kali di terbitkan dalam bahasa prancis Peau noire, masques blancs tahun 1952. dalam buku ini Frans Seorang Psikiatris Menggunakan teori Psikoalanilis untuk menjelaskan efek spikologi yang di alami kulit hitam di tengah dominasi kulit putih. Selain sebagai seorang psikiater Franz berbicara sebagai secara Subyektif sebagai ’obyek penderita’.

sejarah peradaban dunia yang di dominasi satu golongan atas golongan lain - kolonialisme dan imperialisme bahkan slavery - bagaimanapun meniscayakan sebuah efek yang tidak bisa di hindari.

spesifik dalam sejarah barat, bangsa kulit hitam adalah the dominee (dalam bahasa Marx) sedang bangsa kulit putih sebagai the dominator. di ranah ini tumbuh subur hubungan kesenjangan antara inferior dan superior, bagaimanapun kedua kubu ini [dalam prespective Marx] tidak akan pernah menemukan benang merah atau titik temu, duduk sebangku bersebrangan, berdiri sejajar atau mempunyai hak yang sama.

tidak seperti Marx yang menguraikan teori dan solusi dari sebuah penindasan yang berakhir pada epistemologi revolusi, dalam aplikasi sosialisme - kesetaraaan, penghapusan individual rights, dbs - Franz Fanon seorang tokoh Psikologi dalam buku ini menitik pusatkan penelitiannya pada ’aspek kiri’ dari sebuah kolonialisme.

dalam kamus Franz, kolonialisme kulit putih telah memberi dampak Inferiority complex pada kulit hitam sebagai obyek dari kolonialisasi. inferiority complex adalah perasaan dependend dan tidak percaya diri, menganggap orang lain lebih baik, pintar, tangguh dsb. efek dari inferiority complex sudah barang tentu adalah kemunduran kepribadian, reduksi karakter dan lost of identity (kehilangan identitas).

An inferiority complex, in the fields of psychology and psychoanalysis, is a feeling that one is inferior to others in some way. Such feelings can arise from an imagined or actual inferiority in the afflicted person. It is often subconscious, and is thought to drive afflicted individuals to overcompensate, resulting either in spectacular achievement or extreme antisocial behavior, or both. Unlike a normal feeling of inferiority, which can act as an incentive for achievement, an inferiority complex is an advanced state of discouragement, often resulting in a retreat from difficulties. (www. wikipedia.com)

selain itu kolonialisme itu juga membentuk karakter kecenderungan meniru (imitate) aktor pelaku kolonilisme itu sendiri, dalam bahasan sempit adalah kulit putih. Franz menyebutnya dengan istilah ”Black Skin White Mask” .

keberadaan kulit hitam di bawah dominasi kulit putih telah melahirkan complexion yang berujung pada upaya meniru - Black Skin White Mask - subyek pendominasi (kulit putih). proyek Imitating ini tidak hanya dari kontek fisik tetapi juga non-fisik seperti pola pikir bahkan ideologi.

dalam prespective Fanon perbedaan ras dan Etnisitas bukan sekedar perbedaan yang bersifat alamiah dan terkait dengan faktor-faktor yang askiptif seperti yang di asumsikan oleh teori-teori ras dan etnisitas dalam pendekatan kultural-biologis.

Namun, Pendapat Fanon ini lebih dekat dengan pendekatan Neo-Marxist dalam Sosiologi Etnisitas seperti Oliver Cox, Edna Bonacich, Michael Hecter, Robert Mile, Antonio Gramsci, dan Stuart Hall. Oliver Cox mengatakan bahwa pertentangan antar kelompok etnik dan ras adalah tidak universal namun terjadi dalam konteks sejarah tertentu, dan tarkait dengan asal-usul dan kebutuhan ekonomi politik kapitalis (Milosevic 2004: 32)

Teori Fanon ini tampak relevan dengan apa yang terjadi saat ini, dalam konteks neo- kolonialisme, yang sebagian besar dialami oleh Third World Countries. indonesia sebagai salah satu contoh nyata. kecenderungan negara dunia ketiga untuk keniru ’the colonolizer’ sangat besar, hal ini bisa di lihat dari berbagai adopsi baik dari budaya, sistem, pemikiran, gaya hidup maupun ideologi. ada kecenderungan yang sangat masiv dari masyarakat dunia ketiga untuk merasa bangga dengan berbagai produk yang di hasilkan oleh ’the colonizer’ tersebut. kecenderungan ini menurut prespective Fanon di picu oleh rasa inferiority complex sehingga ada keinginan untuk ’meleburkan diri’.

Jumat, 07 November 2008

~ Amrozi dan Terorisme ~

Akhir-akhir ini kita di hebohkan dengan berita eksekusi pelaku Bom Bali Amrozi CS. hampir semua media massa membuat headline yang sama tentang berita ini. kemarin malem sempat juga menonton acara dialog di TVone tentang Indonesia dan kontek terorisme, dan kaitannya dengan kasus Amrozi.

aku sependapat dengan Jubir HT dalam menyikapi kasus Amrozi ini. bapak Ismail Yusanto kemarin mengatakan bahwa menurut hukum Islam, membunuh atau menghilangkan nyawa orang dengan alasan yang tidak di benarkan dalam syariah hukumanya adalah qishos atau Hukuman mati, jika ahli waris yang dibunuh tidak memaafkan. dalam kasus bom bali jelas banyak manusia-manusia tak berdosa yang terbunuh di sana walaupun sang pelaku mengakui bahwa aksinya adalah atas motivasi jihad yang sebagian orang membenarkan tetapi jawaban MUI menurutku sudah mewakili, bahwa jihad dalam hal ini sungguh suatu terma yang tidak relevant.

namun terlepas dari hal itu yang perlu di cermati sebenarnya adalah, benarkan Amrozi CS yang melakukan pembomam sedemikian dasyat, yang membunuh ratusan orang, dan menghancurkan kota Legian?? ataukan ada infiltrasi, interfensi atau design-design lain yang di selipkan dalam aksi ini?. Berdasarkan hasil pemeriksaan bom yang meledak di bali tepatnya Sari Club-Legian saat itu termasuk bom semi nuklir.

dalam persidangan, Imam samudra pernah mengakui bahwa dia sendiri heran dengan ‘hasil’ pemboman yang menurutnya melebihi kemampuannya, juga mobil yang digunakan (Mitsubishi L-300) berbeda dengan yang di sepakati dalam rapat terakhir mereka (Suzuki Cary). juga seperti Jubir HT mengatakan ada kejanggalan yang perlu di analisa dalam kejadian ini, diantaranya adalah tidak matchingnya antara motivasi dan target. motivasi para pembom ini adalah karena kebencian mereka kepada Amerika, tetapi yang menjadi sasaran pemboman mereka adalah Bali, mengapa harus Bali?, apa hubungannya antara Bali dan Amerika. memang Bali adalah salah satu kota wisata yang paling di cari oleh turis Australia, dan Australia seperti yang kita tahu adalah salah satu antek amerika. tetapi apa hubungannya warga Negara Australia (yang mungkin tidak tahu menahu dengan Amerika) harus bertanggung jawab atas perbuatan pemerintah Amerika. juga pemboman di JW Marriot, mengapa harus hotel Marriot, padahal hotel Marriot bukanlah milik amerika bahkan banyak symbol-simbol Amerika di negeri ini malah selamat seperti kedutaan Amerika.

tetapi hal ini di jawab oleh Umar Abduh [yang mengaku sebagai ‘mantan teroris’] bahwa hal ini karena kenaifan berfikir para pelaku tadi. kenaifan dalam mentranslasi motivasi dalam aksi. sedangkan Jubir HT mengatakan hal ini bukan kenaifan tetapi kealfaan yang bisa di sebabkan oleh mis-informasi dan kurangnya informasi (seandainya benar mereka pelaku ‘tunggal’ dalam kasus ini).

memang ada beberapa perbedaan sudut pandang yang aku lihat dari sisi Umar Abduh dan Jubir HT, di mana Abduh yakin bahwa hal itu mereka lakukan, bukan atas campur tangan intelejen atau pihak lainnya, sedangkan Jubir HT mengatakan ada indikasi design atau hidden hand di balik peristiwa itu. bisa saja dalam hal ini infiltrasi atau profokasi asing yang ingin semakin menjatuhkan wajah Islam di negeri ini.

namun pada kesimpulannya di temukan benang merah diantara dua pendapat ini yaitu ketidakadilan dalam stigmastisasi. adalah benar bahwa Amrozi tidak bisa di benarkan dalam aksinya, juga benar bahwa peristiwa ini peristiwa yang tragis, tetapi jika kita amati seperti ada over reacting dalam menanggapi peristiwa ini, berita yang selalu di ulang-ulang di media baik media cetak maupun media elektronik, bahkan di adakan perayaan terjadinya tragedi ini setiap tahunnya dengan berita yang di sebar ke pelosok penjuru dunia, dengan selalu mengaitkan mereka dengan Islam, entah itu Islam konservative, fundamentalis atau Islam radikal, ada proses yang sebenernya sedang di bentuk di sini. proses stigmastisasi, proses yang sudah demikian lama berjalan di dunia timur tengah yang akhir-akhir ini merambah Indonesia sebagai Negara muslim terbesar – hal ini di tujukan untuk memberikan stigma bahwa Islam is terrorist, dan Indonesia is the home of terrorists.

ketidakadilan ini jelas tampak ketika kita melihat sejarah, dengan tragedi-tragedi yang massive yang jauh lebih memilukan namun di arahkan untuk ‘di maklumi” sebagai tindakan preventive atau tindakan balasan. karena tindakan ini di lakukan oleh mereka yang menggembar-gemborkan istilah Teroris itu sendiri. ‘sejarah nyata’ mencatat Pembantaian ribuan rakyat Elsavador di era Carter-Reagen, pembantaian puluhan ribu rakyat Guatemala, pembantaian di Nikaragua, Afganistan, Libanon, dan terakhir Irak, penghancuran sebuah Negara yang menelan korban ratusan ribu jiwa, tidak pernah di anggap sebagai tindakan teroris. Mana ada yang mengatakan Bush itu teroris? dengan aksi pembumihangusan Irak juga dukungan berketerusannya pada Israel yang tidak henti-hentinya membantai rakyat palestina.

bukan dalam rangka pembenaran jika aku katakan apa yang di lakukan Amrozi CS sungguh tidak ada apa-apanya jika di banding dengan apa yang di lakukan Amerika dan anteknya terhadap Negara lain, kesewenang-wenangan, pembantaian, kebiadapan telah mewarnai the real History sang kaisar (Amerika: red) ini yang kemudian di hapus dari sejarah, sehingga apa yang banyak masyarakat baca, fahami dan nikmati saat ini adalah sejarah yang di ‘sterilisasi’. inilah yang di sebut: Newspeak World.

dalam bukunya Naom Chomsky edisi terjemahan, Jalaludin Rahmat dalam kata pengantarnya mengatakan bahwa otak kita persis seperti computer yang merekam berbagai peristiwa dunia, dan kemudian di tulis dan kelompokkan dalam kategori tertentu. dalam hal ini otak kita bisa berfungsi seperti kamus besar kita, yang bisa merecall berbagai kejadian berdasarkan informasi dari kejadian itu. karena proses strorisasi dalam otak kita sering di bentuk oleh kata-kata yang kita dengar dari informasi, maka sejatinya sebagian besar kita memahami dunia ini lewat kata-kata.

dalam bidang linguistic sudah lama ada anggapan tentang keterkitan antara bahasa, fikiran dan pengalaman. Naom Chomsky dalam teori generative grammar yang mengasumsikan kategori kodrati (innate category) dalam jiwa manusia, dimana pengetahuan di peroleh dengan mengaplikasikan category kodrati ke dalam pengalaman. seperti halnya Descartes, Chomsky juga melihat manusia sebagai makluk rasional. dalam bukunya yang di terjemahkan oleh Hamid Basyaib “menguak tabir terorisme internasional”, Chomsky mengutarakan keprihatinannya karena rasionalitas manusia ini telah di kendalikan oleh kekuatan raksasa (Chomsky menyebutnya American Ideological System). pikiran manusia telah dikontrol melalui penggunaan kata-kata dan pemberian makna tertentu yang di sebut dengan istilah newspeak (Orwellian Term).

sejumlah newspeak telah mengeliminasi bahkan mendistorsi pemahaman kita terhadap realitas. sehingga muncul dua dunia, yaitu dunia nyata (the Real world) dan dunia newspeak (the Newspeak world). dunia newspeak adalah dunia yang diciptakan oleh “kaisar” yang berkepentingan dengan mendistorsi informasi demi pembentukan presepsi yang di inginkan. (Menguak Tabir Terorisme Internasional, Hal. 14)

suatu hari St. Augustine menuturkan cerita tentang seorang bajak laut yang di tangkap oleh Elexander Agung, kemudian terjadilah dialog antara Pembajak dan Alexander agung berikut ini:
“mengapa kamu berani mengacau lautan” Tanya Alexander agung. kemudian di pembajak balik bertanya ”mengapa kamu berani mengacaukan dunia?”, karena aku melakukan dengan perahu kecil maka aku di sebut maling, dan kalian karena melakukannya dengan kapal besar di sebut Kaisar” tambah si Pembajak. jawaban pembajak itu sangat bagus dan jitu menurut St. Augustine.

kisah di atas menggambarkan dengan akurat hubungan antara Amerika dengan berbagai actor kecil dalam panggung terorisme internasional akhir-akhir ini. lebih luas lagi St agustine mengungkapkan makna terorisme international dalam penggunaannya di barat dewasa ini dan menyentuh inti-kebiadaban menyangkut peristiwa-peristiwa terorisme tertentu yang hari-hari ini di rancang-degan sinisme yang paling kasar-sebagai selimut untuk menutupi kekerasan barat (Naom Chomsky, Menguak tabir Terorisme Internasional, hal. 19)

istilah terorisme mulai di gunakan pada akhir abad ke-18, terutama untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan pemerintah yang di maksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat pendeknya, cukup menguntungkan bagi para pelaku terorisme Negara yang karena memegang kekuasaan, berada dalam posisi mengontrol system pikiran dan perasaan. dengan demikian istilah aslinya terlupakan dan istilah “terorisme” lalu di terapkan terutama untuk “terorisme pembalasan” oleh individu-individu atau kelompok-kelompok. (International Terrorism and political crimes, Charles Thomas, 1975)

namun dengan membebaskan diri dari indoktrinasi itu kita mengguakan istilah ‘terorisme’ untuk menunjukkan ancaman atau penggunaan kekerasan untuk menindak, memaksa (biasanya untuk tujuan-tujuan politik), entah itu terorisme besar-besaran oleh sang Kaisar ataupun terorisme pembalasan oleh si Pembajak.(Naom Chomsky – Menguak Tabir Terorisme Internasional, hal. 19)

namun saat ini banyak warga dunia termasuk Indonesia terutama pemerintahnya terjebak dengan indoktrinasi ini. indoktrinasi yang di arahkan dalam rangka perang ideologi yang di ciptakan Amerika. pemerintah kita, juga media kita sudah sedemikian latah dalam pemberitaan. setiap ada kejadian sering dengan presumptive, langsung melabeli teroris dengan kemudian menambahkan gelar Islam - Islam Radikal, conservative atau fundamentalis. kita sudah menikmati dunia Newspeak yang di ciptakan oleh para pemilik kepentingan itu. dengan tanpa sadar kita ikut menciptakan stigma-stigma itu. stigma yang mencoreng muka kita sendiri sebagai muslim. stigma yang menjadikan lahirnya Islam-phobi di dunia barat.

Terma Teroris telah direduksi bahkan didistorsi maknanya menjadi sebatas tindakan kekerasan yang di lakukan oleh sekelompok kecil yang menggugat ketidakadilan, sekelompok orang yang merasa tidak puas akan ketidakadilan tangan besi sang Kaisar, bahkan sekelompok orang yang tidak se-ideology dengan sang Kaisar. Teroris hanya milik pembajak dalam bahasa St. Augustine, sementara Sang Kaisar tetaplah ‘penyelamat’ yang melakukan tindakan preventive ataupun pembalasan, meskipun sampai meluluhlantakkan sebuah negeri, menghabisi nyawa ribuan jiwa, sang Kaisar dan anteknya tidak akan pernah di sebut Teroris, padahal seharusnya jika Amrozi CS di sebut Teroris maka George W Bush adalah kakek Buyutnya Teroris, karena telah membunuh ribuan bahkan puluhan ribu jiwa tak berdosa.

Naom Chomsky juga mengatakan bahwa Terorisme dalam pengertian Rasis Diskursus Amerika, Menunjuk pada Teroris oleh bangsa-bangsa Arab, tetapi tidak oleh Yahudi, sebagaimana ‘perdamaian’ berarti penanganan yang menghormati hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa yahudi, tetapi tidak bagi bangsa palestina (Naom Chomsky (Edisi Terjemahan) – Menguak Tabir Terorisme Internasional, Hal. 72)

Mungkin para korban ataupun Sang Kaisar akan sangat puas dengan eksekusi ini, tetapi ini bukan suatu solusi untuk Indonesia. karena sejatinya kasus Amrozi belumlah tuntas, belum di temukan siapa otak yang menjadi Mastermind kejadian itu, juga belum tuntas design-design tersembunyi yang perlu di selidiki. tentu akan ada kemungkinan muncul Amrozi-Amrozi yang lain. dengan sebuah premis sederhana jika ingin menemukan solusi dari masalah maka temukan penyebabnya. masalah dari kasus-kasus serupa Amrozi ini adalah ketidakadilan. ketidak adilan pada dunia Islam, ketidakadilan pada dunia ketiga yang di wujudkan dalam invasi, intervensi, maupun dalam bentuk neo-kolonialisme. sebelum hal ini di akhiri maka akan terus ada perlawanan, atau tindakan-tindakan anarkis lainnya.

Rabu, 06 Agustus 2008

~ Konsep Emansipasi ku ~

aku baru saja menyelesaikan membaca buku karya ibu Marwah Daud Ibrahim yang judulnya: “Teknologi Emansipasi dan transedensi. sebenernya buku ini sudah terbit lama dan juga berisi kumpulan Makalah-makalah, artikel ataupun catatan dari Ibu marwad yang diedit oleh Bapak Yudi Latif.

sebenernya aku ga telalu tau banyak tentang sosok wanita kelahiran Sopeng 8 November 1956 ini, selain pengetahuanku bahwa beliau adalah seorang Anggota DPR, dan seorang Doktor di bidang komunikasi Internasional American University. dan setelah searching di Internet akhirnya aku baru mengetahui bahwa beliau adalah salah satu sosok wanita ‘perkasa’ di negeri ini. dari sejarah hidupnya yang bergelimang perjuangan dan prestasi, pernah terpilih menjadi siswa teladan se-sulawesi selatan tahun 1974 dan juga terpilih menjadi mahasiswa teladan se-sulsel semasa di UNHAS, prestasi ini yang mengantarkannya mendapat Beasiswa dari American University, Washington DC untuk program master komunikasi internasional, dan mendapat biasiswa dr PRof. Dr. BJ. Habibie di Universitas yang sama untuk program Doktornya. dan pernah dinobatkan sebagai Ibu Favorite Indonesia 2007 Versi Women Radio

selain berotak Briliant beliau juga aktivis salah satu lembaga yang di gelutinya adalah ICMI, dan yang menarik lagi dari sekian prestasinya adalah kepedulian nya akan perkembangan perempuan khususnya di negeri ini. tidak seperti mereka yang menobatkan dirinya pembela kaum wanita dengan menyandang gelar kaum feminist yang sering kali radical dalam tututan pembelaannya, Ibu Marwah cukup ‘anggun’ dalam sepak terjangnya di dunia ‘patriotisme’ untuk kaum perempuan.

dari berbagai artikel dan makalah dalam buku yang aku baca ada sebagian besar pembahasan tentang masalah perempuan,termasuk emansipasi dan feminisme. dan aku mengaminkan pandangan emansipasinya yang lebih logical-sentris. bahwa emansipasi bukan lah harus menuntut segala sesuatu yang sama dari kodrat yang berbeda, namun bukan pula memandang bahwa emansipasi adalah sesuatu yang tabu demi sebuah kerelaan peran wanita yang di asumsikan banyak orang hanya cukup di ranah domestik sphere saja. namun emansipasi dalam konteks kekinian memang sering di salah artikan dan sering berlebihan kadarnya.

beliau menganalogikan hubungan lelaki dan perempuan ibarat sepasang sepatu, yang keduanya sejajar dan sama pentingnya. adalah suatu hal yang aneh ketika kita harus menanyakan bagus mana sepatu sebelah kanan-atau kiri? atau penting mana sepatu sebelah kanan-atau sebelah kiri? karena keduanya memegang peran masing-masing yang sama pentingnya. tentu saja sepatu sebelah kiri ataupun kanan tidak akan ada artinya seberapapun bagusnya ketika tidak ada pasangannya. begitu juga hubungan antara laki-laki dan perempuan. laki-laki dan perempuan adalah patner abadi yang di ciptakan oleh sang Khalik untuk saling melengkapi dengan tanggung jawab yang sama yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini. walau harus dengan beberapa perbedaan peran yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

adalah mustahil untuk mengharapkan persamaan mutlak antara laki-laki dan perempuan karena pada hakikatnya mereka berbeda, secara kodrati. persamaan mutlak justru akan menjadi beban bagi perempuan karena by nature wanita dan laki-laki berbeda dari sisi Fisik ataupun Psikologis. laki-laki dan perempuan sama-sama di beri jiwa feminim dan maskulin, Cuma kadarnya berbeda. jika laki2 dominan dengan jiwa maskulinnya, maka perempuan di berikan kelebihan dengan sifat feminim yang dominan. kaduanya di ciptakan agar saling melengkapi kekurangan masing-masing.

perbedaan dua kutub lelaki dan perempuan sudah menjadi perdebatan sejak berabad-abad lalu. dan sejauh ini, sejarah peradaban wanita di hadapkan pada dua realitas yang sangat kontras. realitas pertama adalah keterasingan perempuan dari pentas existensinya yang paling parah adalah di masa jahiliyah, dimana perempuan tidak punya hak sama sekali, baik hak suara, hak waris bahkan hak untuk hidup, dan di masa ini lelakilah penguasa mutlak. sedang realitas kedua adalah realitas permisif (serba boleh) dan kebebasan yang seluas-luasnya. isu utamanya adalah gerakan feminisme yang menuntut persamaan hak dan kedudukan dengan kaum lelaki baik dalam pendidikan, kedudukan, kehormatan dan pekerjaan. extremnya ada bahkan yang menolak peran biologisnya (femisisme radical) sebagai perempuan yang harus melahirkan, menyusui dan mengurus anak.

aku sefaham bahwa sampai sekarangpun masih banyak wanita yang terjajah bukan hanya secara intelektual tetapi juga secara kultural. sebagian besar wanita indonesia khususnya, masih sulit untuk memperoleh pendidikan, bukan hanya karena faktor ekonomi tetapi jg konstruk sosial yang masih melekat di masyarakat bahwa wanita adalah makhluk domestik yang tak lepas dari tugas 3UR nya (dapUR, sumURr, kasUR) sehingga pendidikan di anggap tidak begitu penting bagi wanita. dan struktur sosial kita yang sudah Given, menumbuh suburkan konstruksi sosial bahwa wanita sebagai inferior, subordinate ataupun sekunder.

kondisi inipun yang kemudian memunculkan bias opini baru yang berkembang di masyarakat. satu opini ‘extrem’ yang menganggap wanita yang bekerja di rumah adalah inferior, sekunder dan marginal sehingga ‘mewajibkan’ wanita untuk berperan aktive si public sphere, sebagai salah satu saham lahirnya konsep emansipasi kekinian yang melampaui batas.

sepertinya permasalahan tentang wanita masih akan menjadi sejarah panjang selama masih ada pihak yang merasa ‘the domninee” dan ada yang merasa sebagai ‘the dominator’. namun saya hanya akan merefrensikan beberapa hal berkenaan dengan penghargaan exsistensi perempuan dan mengeliminir stigma ataupun bias stigma ‘inferior’ pada perempuan:

1. Self awarness
penghargaan pada perempuan harus di mulai dari kesadaran pada diri perempuan itu sendiri, hal ini harus di mulai dari kesadaran perempuan akan pentingnya eksitensi dirinya, bahwa keberadaan perempuan adalah organ yang vital dalam sirkulasi kehidupan di bumi ini. karena dari rahim perempuan lahir tokoh2 pembangun dunia, juga dari rahim perempuan bisa lahir tokoh penghancur dunia, perempuan adalah makhluk yang menempati posisi paling stategis dalam pembentukan generasi di bumi ini. dengan kesadaran ini maka perempuan akan merasa sangat berarti keberadaannya terlepas dari peran apapun yang di jalaninya. disini juga perlu konstruksi pemahaman peran, bahwa peran alami yang di berikan kepada wanita sebagai ibu rumah tangga bukan lah peran yang inferior tapi justru peran yang significant.


2. self empowerment
pemberdayaan ini pertama2 harus di sentuh dari segi pendidikan. setelah menyadari keberadaannya maka perempuan mulai menyadari tugasnya dan mulai menyusun strategi untuk melaksanakan tugas tsb. karena itu menurutku pendidikan perempuan sangat lah penting bukan dalam rangka ingin ‘merebut’ posisi laki-laki di berbagai bidang tapi justru untuk memantapkan peran strategisnya yang utama sebagai seorang generation creator, first educator, sampai menjadi pillar of Nation. dengan pendidikan juga akan menaikkan posisi tawar (bargaining power) perempuan dalam rangka mendekonstruksi stigma ‘ketidak berdayaan’ perempuan. dalam hal pendidikan formal memang ini harus melibatkan lembaga dan sistem baik dari keluarga sampai ke negara, tetapi pendidikan tidak melulu harus duduk di kelas atau ruang kuliah, membaca koran yang tercecer di jalanpun bisa termasuk mencari pendidikan, karena kita bisa belajar atau di didik oleh siapa saja yang kita temui, apa saja yang kita baca. intinya adalah bagaimana perempuan bisa membuka cakrawala fikirnya tentang keberadaannya juga mampu ‘sejajar’ dengan perkembangan dunia di sekitarnya.

3. self appreciaton
hal ini penting, karena sering kali perempuan justru mendekonstruksi kediriannya dengan caranya menghargai dirinya. saat ini ketika bicara tentang perempuan, tidak akan pernah jauh dari hal2 yang bersifat kebenda’an, seperti penampian fisik, kecantikan, etc. lihat saja majalah, koran, atau media, hampir setiap detik setiap waktu akan di hiasi oleh wajah cantik perempuan dengan berbagai style yang sebagian besar berhubungan dengan entairtainment, atau advertisement yang mengagungkan fisik atau kebendaan. di media jarang sekali perempuan di tampilkan karena prestasinya, karena kepandaiannya, atau kecerdasaannya, kalaupun ada porsinya masih sangat kecil. memang ini sumbangsih konstruksi sosial tadi yang melahirkan exploitasi perempuan secara samar. tetapi hal ini juga berawal dari sisi si perempuan sendiri yang senang jika di hargai karena faktor fisiknya, bukan karena potensinya. di sinilah perlu di tanamkan self appreciation, atau penghargaan pada diri sendiri, bahwa wanita di ciptakan bukan sebagai ‘magnet pemikat’ yang suka di ekpolitasi bagian2 fisiknya tetapi wanita juga harus menghargai dirinya sebagai aset berharga bagi peradaban dunia ini dengan kemampuannya potensinya dan prestasinya.

dan emansipasi harus di maknai sebagai usaha untuk memaksimalkan potensi perempuan yang merupakan bagian dari khalifah di bumi ini seperti halnya laki-laki. perempuan haruslah cerdas jika tidak mau menjadi idle karena di manapun perempuan berkiprah di situlah ranah strategis untuk menyemai benih ‘eksistensinya’, perempuan bisa ‘berprestasi’ di bidang apapun yang di geluti baik sebagai ibu rumah tangga maupun peran-peran publik lainnya.

perempuan bisa jadi peneliti, politisi, akademisi, tanpa harus melepas tanggung jawab kediriannya sebagai ‘perempuan’, seperti menjadi ibu rumah tangga atau pendamping setia untuk perkembangan anak-anaknya. jika ini di anggap sebagai double burden maka perlu di pertanyakan seperti apa perempuan ingin di akui eksistensinya? apakah harus bertukar posisi, lelaki yang mengandung dan melahirkan? tentu mustahil. artinya perempuan juga harus konsisten dan bertanggung jawab dengan pilihannya. seperti halnya lelaki yang tidak bisa menuntut cuti haid dan cuti hamil perempuanpun tak bisa menuntut laki-laki untuk mengandung dan melahirkan (hehe)

~ just an opinion ~

Senin, 14 Juli 2008

:: Defisit Pasokan Listrik ::

setelah meredup reaksi beragam atas kenaikan harga BBM beberapa saat yang lalu, saat ini kita di kejutan lagi oleh kebijakan baru pemerintah yang bisa di bilang konyol. kebijakan ini menyikapi adanya defisit pasokan listrik di negeri ini , hingga berakibat pemadaman listrik secara bergantian. untuk menghadapi masalah ini pemerintah mengeluarkan SKB yang melibatkan 5 Kementerian/Lembaga, yaitu Departemen Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja dan Industri, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Departemen Dalam Negeri, dan Kementerian Negara BUMN tentang pemindahan jam kerja industri. kebijakan ini di ikuti oleh ancaman kepada pihak industri yang tidak mentaati akan mendapatkan sangsi dari pemerintah. kebijakan ini tidak hanya radical dalam merusak citra indonesia di mata para investor, juga radikal dalam merepress para employer industri di negeri ini.

sangat Ironi, Indonesia negara yang sangat kaya akan sumber daya alam sebagai sumber energy ini harus mengalami krisis listrik. cadangan batu bara sebagai salah satu sumber energy di indonesia sangat melimpah bahkan mencapai puluhan miliar ton dan berada di urutan ke 16 pada daftar cadangan batubara dunia dan termasuk negera pengekspor batu bara ke 9 terbesar di dunia, cadangan batu bara itu sebenarya cukup untuk memasok energy listrik di Indonesia sampai ratusan tahun kedepan. memang tidak mungkin membakar semua batu bara ini melalui PLTU karena selain tidak efisien bisa mengakibatkan polusi lingkungan tetapi ada cara lain yaitu dengan mengkonversi batu bara menjadi migas sintetis (
www.wikipedia.org). artinya batu bara tetaplah bisa di andalkan sebagai sumber energy di negeri ini

selain itu air sebagai sumber energy listrik juga melimpah di berbagai daerah di negeri ini, belum lagi beberapa enegy alternative non BBM yang banyak di temukan anak bangsa seperti PLTB (pusat listrik tenaga Bayu) yang di kelola dengan teknologi belanda yang di kembangkan di bali (Antara, 10/5/08) dan tenaga listrik hasil daur ulang sampah, gelombang laut, atau pengembangan bioteknologi. banyak sekali sumber yang bisa di manfaakan, tetapi kenapa bisa terjadi krisis listrik?? jawabanya jelas negara kita memang masih miskin Manajemen, dan sering bertindak non-future oriented.

selanjutnya masalah minimnya pasokan listrik yang di hadapi sekarang ini yang berakibat pemadaman listrik bergiliran (oglangan) ini menimbulkan reaksi yang tidak populer dari pemerintah yaitu kebijakan memindahkan jam industri dari hari libur (sabtu /minggu) ke hari kerja melalui pemberlakuan SKB. program ini konon akan berlangsung sambil menunggu proyek listrik 10 ribu MW yang di pekirakan akan selesai tahun 2010. pangalihan jam industri ini mempunyai basis argumen bahwa sektor industri adalah sektor yang paing besar menyerap listrik, sehingga konsumsi listrik untuk sektor industri mencapai 7000 MW perhari kerja,sedangkan Daya yang tidak terpakai pada Sabtu mencapai 1.000 MW dan Minggu 2.000 MW. namun seperti kebijakan yang lain kebijakan inipun tampaknya bukan saja solusi tak cerdas tetapi juga akan menimbulkan masslah2 yang lain. alasan2 tidak populernya kebijakan ini diantaranya:

Alasan pertama, sebuah industri tentu mempunyai chain atau mata rantai yang berhubungan satu sama lain, dan chain itu tidak hanya tidak hanya di area nasional tetapi juga internasional. Tentu sangat tidak praktis ketika industri local bekerja di saat industri luar negeri sedang libur. Segala macam kepetingan yang harus di jalin dari dua chain di dua negara berbeda saat itu bisa saja terhambat.

Alasan kedua, kerugian bagi para employer karena mempekerjakan karyawan di hari libur, harus membutuhkan gaji/imbalan yang lebih besar dari hari biasa karena masuk hitungan jam lembur karyawan. berkenaan dengan hal ini sebagian employer meminta pemerintah melalui departemen tenaga kerja mengeluarkan regulasi ulang mengenai definisi jam lembur yaitu dengan tidak memasukkannya hari sabtu dan minggu sebagai jam lebur bagi karyawan yang jam industrinya di pindahkan, hal ini bisa saja menjadi solusi bagi employers tetapi tidak bagi employees.

Alasan ketiga, perampasan hak karyawan, hari libur adalah hari keluarga bagi karyawan di hari liburlah biasa karyawan bisa meluangkan waktu bersama anak istri atau keluarga dekat lainnya, memang libur karyawan bisa diganti dengan hari yang lain, tetapi apakah liburan sekolah anak-anaknya juga bisa di sesuaikan dengan hari libur karyawan tersebut. ini kebutuhan basis bagi semua orang termasuk karyawan.

Bisa di maklumi jika banyak investor yang enggan datang kenegeri ini , bahkan berniat hengkang ke Negara lain. Alasannya bukanlah terorisme yang sering jadi kambing hitam tetapi ketidak mampuan pemerintah kita “melayani” investor tersebut dengan baik. Terutama dalam hal infrastruktur, yang menjadi kebutuhan mendasar setiap perusahaan. jadi jangan hanya mengandalkan isu “terorisme” dengan ketidak hadiran investor di negeri ini, tapi perhatikan lebih detail infrastruktur terlebih dulu yang menjadi alasan basis para investor untuk menanamkan modalnya.

Kamis, 22 Mei 2008

BLT Vis a Vis Kenaikan BBM

Akhir2 ini berita di berbagai media dipenuhi dengan kabar kenaikan BBM karena kenaikan harga minyak dunia yang kian melambung. keputusan pemerintah ini konon demi menyelamatkan APBN yang bisa jadi deficit dengan anggaran subsidi minyak yang kian tinggi seiring dengan melambungnya harga minyak dunia yang di perkirakan mencapai 10% sehingga pemerintah berkeputusan untuk mencabut subsidi BBM, dana subsidi yang di kurangi akibat kenaikan tersebut sebesar Rp 34,5 triliun. Dari jumlah itu, Rp 18,15 triliun akan dialokasikan untuk bantuan langsung tunai (BLT) bagi 19,1 warga miskin.

Di Jakarta, Kamis (15/5), Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan, Anggito Abimanyu mengatakan selain untuk BLT dan bantuan pangan (BLT Plus), dana subsidi dari kenaikan harga BBM juga akan dialokasikan untuk cadangan risiko fiskal sebesar Rp 15,2 triliun. Begitu pula untuk bantuan kredit usaha rakyat sebesar Rp 1 triliun dan public service obligations seperti angkutan kereta api sebesar 0,15 triliun. (Metrotv News)

dari uraian di atas sebagian besar dana penarikan subsidi itu akan di alokasikan untuk BLT yang sudah berjalan sedangkan program yang lain masih di atas perencanaan. artinya BLT adalah suatu opsi terdepan bagi pemerintah untuk mengantisipasi melonjaknya angka kemiskinan di negeri ini. dengan presumptive bahwa imbas pencabutan subsidi BBM bagi masyarakat bawah bisa ditanggulangi dengan menggantikan dengan program2 di atas juga asumsi bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran karena banyak di berikan justru untuk kalangan menengah di atas. pertanyaannya effective kah program Major pemerintah dalam menghadapi lonjakan harga BBM ini dengan memberikan BLT Plus kepada masyarakat Miskin? mengingat data Orang miskin yang di pakai adalah data tahun 2005 belum lagi data tingkat kemiskinan pun masih simpang siur karena data yang di hasilkan BPS (biro Pusat Statistik) - satu-satunya lembaga yang melakukan pendataan - sering kontradiktive dengan realita di lapangan. juga standarisasi kemiskinan yang sangat rendah. sebagai contoh standarisasi yang di pakai Bapennas. Staf Ahli Meneg PPN/ Kepala Bappenas bidang Sumber Daya Manusia dan Kemiskinan Bambang Widianto mengatakan pemerintah menggunakan definisi penduduk miskin menurut MDGs (millennium development goals) yakni masyarakat berpenghasilan di bawah US$1 per hari, ini hanya separoh dari Standarisasi Bank Dunia yaitu US$2 Perhari. (Jurnal ekonomi 25 Des 2007). di samping itu Kebijakan pemberian BLT menyisakan berbagai argument yang bisa menjadi amunisi kritik masyarakat kepada pemerintah, diantaranya:

BLT Tidak tepat sasaran
BLT ini sudah berlangsung beberapa tahun tetapi tidak bisa di temukan keberhasilan dari program ini, di samping tidak efektive juga sulit untuk meyakinkan bahwa program ini tepat sasaran. karena pemerintah hanya memberikan tugas ini kepada pihak Pemerintah local (setingkat RT/RW) untuk mebagikan kepada warganya, dan faktanya justru banyak keluarga miskin yang harusnya mendapat bantuan ini tetapi tidak dapat dan banyak keluarga yang seharusnya tidak mendapatkan tetapi justru di beri, hal ini di karenakan beberapa hal diantaranya aspek kinship (mengutamakan keluarga terdekat) juga pendataan yang tidak akurat.


BLT tidak future oriented
bantuan BLT ini juga tidak berorientasi jangka panjang, karena pemerintah hanya memberi uang tunai yang akan cepat habis, setelah habis mereka hanya kan menunggu jatah berikutnya, begitu seterusnya. sehingga tidak ada pandangan kedepan harus seperti apa? uang seratus ribu sebulan adalah jumlah yang sangat minim untuk usaha, bahkan untuk membeli beras untuk keperluan sebulan saja sangat pas-pasan. sehingga kebijakan pemerintah ini hanya solusi jangka pendek bantuan ini juga justru memberikan pendidikan yang sama sekali tidak cerdas. sama saja pemerintah mendidik rakyat miskin untuk memiliki mental pengemis. minta di kasih setelah habis minta lagi dan seterusknya, begitulah rantai perjalanan bantuan ini.

BLT bukan solusi.
bisa di bilang bantuan ini hampir tidak bisa di jadikan bahkan hanya salah satu dari solusi kemiskinan yang begitu pelik di negeri ini. dengan memberi uang tunai dan membiarkan rakyat tetap hidup tanpa mata pencaharian yang tetap bahkan tanpa pekerjaan sama saja memberi kan candu yang suatu saat akan menyebabkan ‘kesakauan’. juga membiarkan rakyat hanya mampu mengisi perutnya yang kosong dengan mengabaikan hal-hal lain seperti sanitasi, pendidikan, dan infrastruktur yang lain bisa menjadi upaya pembunuhan yang sistemastis. hal ini tentu bisa di buktikan dengan premis yang sederhana jika menilik keadaan rakyat miskin yang hidup di wilayah2 yang jauh dari kata hygienis.

anggaran BLT plus yang akan di berikan kepada masyaratakat miskin selama setahun di perkirakan mencapai 24 triliun rupiah. sebenernya dengan uang itu banyak hal yang bisa di lakukan pemerintah untuk membantu masyaratkan. membantu plus memberdayakan dan mendidik mental pekerja untuk mereka. misalnya jika uang ini di gunakan untuk membangun infrastruktur di desa yang bisa memperkerjakan masyarakat ini yang digaji dengan profesional. dalam hal ini masyarakat mendapat dua keuntungan yaitu uang gaji berkerja untuk kebutuhan sehari-hari dan juga bisa menikmati infrastruktur desa nantinya. paling tidak ketika uang bantuan itu terhenti masyarakat masih bisa menikmati infrastruktur yang ada. atau pemerintah gunakan untuk program pemberdayaan masyarakat atau memberdayakan lahan2 kosong untuk proyek pertanian dengan mempekerjakan mereka ini dengan hitungan gaji yang profesional. atau bisa dengan memberikan bantuan Usaha kecil menengah kepada mereka dengan lebih dulu memberikan penyusuluhan untuk kewirausahaan, juga follow upnya misalnya. atau berbagai proyek lain yang bisa di alokasikan untuk mengatasi kemiskinan mereka ini.

Intinya solusi kemiskinan adalah pekerjaan, bukan uang. jika pemerintah hanya memberi dana bantuan uang atau bahan yang cepat habis tanpa menyisakan continuanity untuk kehidupan selanjutnya maka ini hanyalah ‘obat’ sesaat, sedangkan menciptakan pekerjaan tentu saja adalah solusi yang lebih future oriented, juga menjanjikan perbaikan di berbagai aspek.

Selasa, 06 Mei 2008

Ujian Nasional dan Terror Intelektual

Beberapa hari yang lalu adek-adek kita yang duduk di kelas tiga SMU mengikuti Ujian Nasional untuk menentukan hasil belajarnya selama tiga tahun yang lalu. Ujian itu hanya untuk menuai keputusan yang sangat tragis antara lulus atau tidak lulus. Bagi yang lulus berarti sukses dan bisa meneruskan ke jenjang selanjutnya dan bagi yang tidak lulus berarti gagal dan harus mengulang atau putus di tengah jalan. Benarkah Ujian Nasional yang hanya mengujikan tiga mata pelajaran - Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahsa Inggris - ini bisa menjadi juri yang adil untuk mementukan kelulusan siswa dari hasil belajarnya selama 3 tahun?

Ujian nasional bahkan lebih cenderung menjadi terror bagi sebagian siswa, betapa tidak? perjuangan nya selama 3 tahun hanya akan di adili dengan waktu 120 menit sementara mata pelajaran dan kegiatan lain seakan tiada guna ketika 3 mata pelajaran saja yang di anggap mampu menampung seluruh isi otak para siswa untuk menentukan kelulusannya. Ironisnya para pelaku pendidikan seperti "menutup mata" pada kekurangan para pendidik atau sistem yang ada. Para pelaku pendidikan juga tidak cermat mengawasi jalannya pendidikan di institusi pendidikan khususnya di daerah yang notabene jauh kualitasnya jika di banding dengan pusat, seakan ‘cuci tangan’ dari kekurangan dan kesalahan yang ada mereka justru menyandarakan seluruh tanggung jawab ketidak lulusan siswa pada sekolah-sekolahnya,dan begitu yakin bahwa ujian Nasional akan menjadi cambuk untuk meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini tanpa mengindahkan berbagai hambatan yang di alami siswa yang sering kali tidak melulu kesalahan siswa. Berbagai hal yang di abaikan di antaranya adalah kualitas pendidik, fasilitas pendidikan dan proses pendidikan itu sendiri yang secara langsung akan menjadi basic dari output yang akan di raih oleh siswa.

UN juga sebagai bentuk penyimpangan dari UU pendidikan nasional yang menyatakan bahwa yang berhak menentukan kelulusan Siswa adalah para pendidik di institusi tempat siswa/i tersebut bersekolah.
Seyogyanya pemerintah atau pihak pelaku pendidikan khususnya, (red: depdiknas) tidak meganggap bahwa pendidikan di sekolah-sekolah di seluruh negeri ini mempunyai kualitas yang sama hingga di nilai dengan cara yang sama, Sebuah SMU di Papua misalnya tentu saja jauh berbeda kualitasnya jika di banding dengan SMU 08 Jakarta, kepincangan kualitas ini di tunjang juga oleh kesenjangan ekonomi juga kondisi sosial setempat. anak jakarta misalnya akan sangat biasa sepulang sekolah belajar, mengikuti Les, Bimbel, dsb berbeda dengan anak-anak sekolah di daerah-daerah terpencil yang sepulang sekolah harus membantu orang tuanya di ladang, mencari nafkah dsb. dari sisi fasilitas sekolah juga, tentu beda antara Sekolah N 06 jakarta dengan sekolah negeri yang ada di Jambi atau daerah lainnya. belum lagi kualitas guru, juga sistemisasi dan kurikulum pengajaran di sekolah. secara legal formal mungkin ada kesamaan kurikulum di seluruh indonesia tetapi pada prakteknya sekolah di daerah sering jauh tertinggal dengan sekolah-sekolah di pusat dalam hal kualitas materi pelajaran.

aku sendiri pernah mengalami ketika SMA dulu mengikuti Ebtanas, soal yang ada dalam lembar2 ujian Ebatanas sangat jauh jika di banding dengan apa yang di pelajari di sekolah, bahkan untuk mata pelajaran Eksakta di kelas nilai nyaris tidak pernah kurang dari delapan, tapi di Ebatanas untuk mendapat nilai 4 saja sudah sangat susah. juga dalamhal penilaian di sekolah, guru di beberapa sekolah ada yang "lebih toleran" kepada muridnya, hingga nilai yang sebenarnya rendah bisa "di katrol" karena rasa kasihan atau kedekatan siswa, penilaian pun sering tidak objective, dan sering melibatkan unsur subyektivitas hal ini juga menjadi faktor lain ketidaksiapan siswa menghadapi UN yang di nilai dengan ‘saklek’ oleh DepDikNas. Sehingga Siswa seakan menghadapi "Shocking event" ketika menghadapi Ujian nasional yang standarnya jauh berbeda dengan apa yang pernah ia alami. hal-hal ini yang seharusnya perlu di cermati dan di benahi terlebih dahulu oleh pemerintah sebelum menerapkan peraturan yang terkesan seperti teror ini.

Seharusnya para pembuat kebijakan ini pun ikut menangis bersama ratusan siswa yang gagal dan di nyatakan tidak lulus hanya karena salah satu mata pelajaran yang di ujikan tidak memenuhi standars nilai. Bayu Taruna dari SMAN 71 misalnya, tidak lulus karena nilai matematika nya 4 (standar kelulusan 4.26) padahal nilai bahasa inggrisnya 9.2 dan nilai bahasa Indonesia nya 8.8, Muhammad Al farisi dari SMA Islam PB Sudirman mengalami nasib yang sama dengan bayu nilai UN bahasa Iindonesia 8, bahasa inggris 7.2 dan matematika 4. dan banyak lagi contoh yang lain.

Penilaian dalam Ujian ini juga tidak fair dengan bakat dan potensi para siswa, karena tidak semua orang suka matematika atau bahasa Inggris, bisa jadi sangat berkompeten di satu bidang dan sangat lemah di bidang yang lain, sehingga ini tidak bisa menjadi acuan keberhasilan siswa. Ujian Nasional ini juga bisa di bilang penilaian yang jauh dari standard moralitas, karena tidak ada penilaian dari segi moral siswa bahkan mata pelajaran agama juga tidak termasuk pelajaran yang di ujikan, cermin dari system yang hanya mengandalkan kecerdasan intellectual tanpa memperhatikan kecerdasan spiritual, sungguh system yang praktis sekuler. Hal ini perlu di pertanyakan apakah kualitas generasi ini hanya di ukur dari nilai matematika, bahasa inggris, dan bahasa Indonesia nya saja. Bisa di jawab bahwa ujian ini sudah mencakup test kecerdasan Koqnitive dan motorik tapi sanggupkan merepresentasikan ahlaq dari para siswa??. Padahal dalam UU No.20 th 2003 tentang Pendidikan Nasional di nyatakan sebagai berikut…

bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang;

juga di BAB I tentang ketentuan Umum pasal satu di nyatakan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
Dan satu hal yang lebih mencengangkan lagi adalah Ujian Nasional telah menjadi tempat tumbuh kembangnya manipulasi sistematis di tubuh institusí pendidikan. Dengan adanya Ujian Nasional ini guru yang banyak tahu seluk beluk siswa tidak punya hak untuk mementukan kelulusan siswanya, al hasil kekhawatiran pun muncul akan banyaknya siswa yang tidak lulus sehingga Timbul inisiatif untuk memanipulasi ujian ini dengan cara membocorkan soal, mengirimkan jawaban melalui sms, bahkan mengisi lembar jawaban di soal-soal yang belum terjawab, hal ini bisa di bilang tragis mengingat lembaga pendidikan adalah lembaga tempat mencetak generasi harapan negeri ini, lalu hasil seperti apa yang akan di berikan dari praktek manipulasi, korupsi? tapi apa boleh buat guru melakukan semua ini bukan atas kehendak pribadi semata tapi juga rasa tanggung jawab bahkan "teror" dari atasan. Sebagai contoh di Garut Bupati mengancam akan memutasikan kepala sekolah yang kelulusan muridnya di bawah 95% (Republika 17 Mei 2006). Hal ini bisa melahirkan generasi yang tidak lagi menghargai proses dan lebih memilih cara pintas tidak perduli lagi halal-haram, atau benar-salah.

Ujian Nasional dengan standar nilai kelulusan tiap mata pelajaran minimal 4.26 dan rata- rata minimal 4.51 seakan menjadi bom waktu yang harus di jumpai oleh murid, dalam kondisi siap ataupun tidak siap. Mau tidak mau pemerintah harus mengakui bahwa kegagalan siswa dalam Ujian bisa jadi karena mereka "terkondisikan untuk gagal" oleh berbagai kekurangan yang seharusnya lebih dulu di benahi.

Jika pemerintah ingin mengukur potensi siswa boleh saja di adakan Ujian semacam Ujian Nasional ini tapi tidak untuk menentukan lulus atau tidak lulus tapi lebih ke arah penelusuran bakat dan potensi, tentang kelulusan bagaimanapun pihak sekolah yang bertahun-tahun mendidik siswa harus di ikut sertakan dalam menentukan kelulusan siswa, sehingga mata pelajaran yang lain tidak di abaikan juga factor moralitas (manner) dan keaktivan siswa bisa dipertimbangkan. kesimpulannya, masih harus di pertanyakan benarkan UN adalah cara yang tepat untuk meningkatkan Kualitas pendidikan di Negeri ini?

Jakarta 02'05'07

Selasa, 15 April 2008

Celoteh Anak Negeri

Terkadang berkecambuk berbagai pikiran tentang kondisi negeri ini…(padahal mikirin diri juga bloom bener hehe, ga tau kepikiran aja)
Sering aku buka2 internet tentang perkembanagan tehnologi dunia barat, bahkan paling seneng klo buka web NASA, seneng banget dengan kecanggihan USA dengan stasiun luar nagkasa, aerocraftnya..Uhh kapan yah Indonesia bisa seperti ini??? Huuu mungkin 5o th lagi, mungkin seratus tahun lagi atau mungkin???

Aku termasuk orang yang sangat benci dengan arrogansy amerika, tapi di sisi lain aku sangat mengaggumi kemajuan mereka, keuletan, kedisiplinan, dan kecintaan mereka pada ilmu telah membawa mereka ke kemajuan yg sangat dasyat..

Begitu juga ketika aku mendengar cerita tentang Negri sakura, "Negara Jepang" yang semua pasti tau tahun 45 jepang mengalami kehancuran luar biasa karena Bomb atom AS, dan pada tahun yang sama juga Indonesia merdeka. Melihat Dari tahun nya sehatrusnya kita memiliki kemajuan yg sama, karena kita memulai dari titik yg sama, dan kehancuran jepang saat itu lebih dasyat.. tapi apa yang kita lihat sekarang bukan lagi kita ketinggalan, tapi memang sudah sangat jauuuuuuuuuh tertinggal di banding Negara ini, padahal kalau di nilai dari sumber daya alam, jepang ga ada apa2nya di banding Negara kita, tapi kenapa jepang bisa melesat begitu cepat??

Sedih ketika mendengar image negeri kita di negri orang, seorang teman yang kuliah di jepang pernah bercerita bahwa image orang2 indonesia itu sering lekat dengan hal2 yang negative keteledoran, ketidak disiplinan, dsb,dsb. Misalnya ketika lampu lab lupa ga di matikan, mahasiswa jepang langsung nyeletuk “pasti mahasiswa Indonesia neh “, atau ketika pintu lupa ga di kunci, “ini pastiii orang Indonesia”…

Juga seorang temen yg bekerja di perusahaan asing kebetulan bosnya orang arab, suatu hari beliau bertanya gimana seh image orang indo di mata orang2 disana?. Dengan santai bossnya menjawab, orang Indonesia itu kalau perempuan identik dengan pelacur kalau laki2 identik dengan pencuri (astaqfirullah), karena Indonesia itu Negara muslim terbesar tapi, korupsi terbesar, juga prostitusi ga ketulungan..Duhh..separah inikah???..juga banyak lagi cerita2 yg buatku sedih walau ga menafikkan kalau ga semua orang punya penialiaian seperti itu..tapi sebenernya kita neh hampir kehilangan muka di depan negara2 tetangga kita..tul ndak??

Then..klo kita melihat kondisi Negara ini..dengan berbagai masalah yg sangat complex, dari masalah korupsi yg terjadi juga di departemen atau institusi yg seharusnya bisa di percaya, Departemen agama, kejaksaan, kepolisian, juga hamper semau departemen ga lolos dari yang namanya kasus korupsi..trus siapa yang bisa di percaya???

Belum lagi masalah politik, yang ga bisa di tutupi lagi money politik di sana –sini, sekarang anggota dewan bukan lagi membela suara rakyat, tapi membela yang membeli suaranya, saya pernah dengar dari seorang Ustadzah, yang kebetulan beliau anggota DPR, bahwa dalam hitungan menit keputusan seorang dewan bisa berubah hanya karena benda yg namanya "uang". Maka jangan heran klo banyak UU atau kebijakan yang terasa simpang siur, ga jelas memihak siapa karena itu hasil keputusan uang…bahkan RUU APP yang sudah di dukung oleh 80% anggota dewan pun belum bisa di sahkan..

Belum lagi masalah2 agama, adanya kebatilan2 yg di bela, aliran2 sesat yg di lestarikan, budaya2 musyrik yg di biarkan…(Upstt..klo bahas ini mungkin ada yang nyeletuk “ Demokrasi Bo..!”..:)

Entah siapa yang salah, dan yg harus di salahkan, yg jelas tak akan selesai hanya dengan menyalahkan..kesalahan ini mungkin sudah tersetruktur sedemikian rapinya dan sudah lekat selama berabad2..tapi mungkin kita bisa melihat sedikit saja pelajaran dari negeri2 tetangga yang sudah duluan sukses…

cinta ilmu
rosul bersabda kalau ingin meraih dunia harus dengan ilmu, dan kalau ingin meraih akhirat harus dengan ilmu.
Dan dari negeri tetangga jepang ada cerita,setelah jepang di bomb oleh amerika th 1945 sang kaisar bukan Tanya, “berapa kerugian yang di derita?” Tapi dia bertanya berapa “banyak guru yang masih hidup”. Dan di jepang pernah di galakkan program satu orang wajib baca 5 surat kabar sehari. Dan sampai kini kebanyakan dari mereka punya target berapa buku yang harus di selesaikan dalam satu minggu. Hasil nya kita bisa lihat sendiri seperti apa generasi jepang klo di lihat dari IPTEKnya..
dan dari islam sendiri ternyata Ilmuan islam dari abad 11-13 tuh banyak banget pada abad 13 ilmuan islam asal syria Hassan Ar-Rahman menulis buku tentang teknologi militer yang sangat di kenal di dunia barat, di sana di tuliskan tentang konsep roket pelambung yg di kenal dengan self-moving combusting egg dan pembuatan Gun powder oleh Hasan Ar- rahman. Dan seorang ahli fisika Yusuf Ibn Ismail Al-kutub (1311) yang mendeskripsikan tentang saltpeter (bubuk mesiu)
seorang machine engineer di abad 12 Al-jazari yang berhasil merumuskan machine mechanism, juga double action pump yang masuk dalam kamus European mechanical engineer. Juga ilmu kedokteran dari Ibnu Sina yang di adopsi di eropa, dll (
www.muslimheritage.com)
dari contoh di atas sebenernya pendahulu kita (umat islam) itu orang2 pinter yang mencoba mengaplikasikan kebenaran Al-quran dengan science. Kenapa kita ga meniru jejak mereka?

Loyalitas.
Loyalitas atau kesetiaan, pada Negara atau nasionalisme yg tinggi membuat mereka merasa bertanggung jawab pada negeri. Orang2 barat itu walaupun (maaf) mungkin akhlaknya kurang baik, tapi mereka lebih bisa di percaya, karena mereka memegang kejujuran, dan loyalitas dalam kehidupannya. Padahal jarang dari mereka yang begitu peduli dengan ajaran agamanya. Tapi mereka lebih menghargai kejujuran, dan konsistensi. Sedang kita?? Sudah jelas2 kalau ajaran agama kita sangat menjunjug tinggi nilai kejujuran bahkan teladan kita Rosullullah SAW, adalah orang yang paling jujur (Al-Amin), tapi dimana prakteknya?? Siapa yang kita teladani sesungguhnya?


menghargai waktu.
Orang barat punya motto "time is an arrow" orang islam punya motto "time is a sword" tapi orang Indonesia punya motto "time is an around" (hehe)
Seorang sahabat yang bekerja di swedia pernah cerita betapa sulit nya di sana untuk ngajak temen jalan2, atau main, semua harus pakai appointment, karena keseharian mereka sudah terscedule. Bahkan anak2 di jepang kalau kita ajak main, ga langsung bilang "ok" tapi mereka akan bilang, "liat jadwalku dulu ya" . mereka sangat mengahrgai waktu "time is an arrow" waktu adalah anak panah yang sekali meluncur tak akan pernah kembali lagi.
Dalam islam sendiri sangat mnekankan penting nya waktu, bahkan Allah sampai bersumpah "demi masa" yang menekankan penting nya waktu. dalam sholat ada philosophy yang memberikan pelajaran tentang kedisiplinan waktu, sehari kita diwajibkan sholat 5 kali, yang sudah di jangka tentukan waktunya, yang tidak boleh mendahului walau hanya 5 menit, seandainya kita sholat 5 menit sebelum azan, otomatis sholat kita ga sah (inilah pelajaran dari kediplinan akan waktu). Dan kita masih di berikan guideline bahwa sholat yang paling baik adalah yang tepat waktu. dan banyak lagi penekanan2 dalam Alquran untuk memanfaat kan waktu kita sebaik2nya. "time is a sword" waktu adalah pedang, yang sangat tajam dan berbahaya, deangan arti yang implicit untuk tidak “paly game” dengan waktu.

Kenapa orang2 barat lebih maju dari kita, lebih makmur dari segi duniawi, karena di manapun Sunatullah berlaku, keuletan dan kegigihan mereka telah Allah balas dengan kejayaan mereka di dunia. Dan orientasi kita tentu berbeda dengan mereka kalau kita ga hanya mencari dunia, tetapi dunia dan akherat. Tapi Bisa kah kita coba dengan usaha dan keuletan seperti mereka? Agar kita bisa sukses dunia dan akhirat atau paling tidak lepas dari belenggu masalah kita saat ini?

….2007
Alzrie

Born to Win

Kegagalan atau Failure, pastinya pernah di alami hampir setiap orang walau dengan kapasitas dan penyikapan yang berbeda-beda..

Kegagalan biasanya di transformasikan dengan ketidak berhasilan meraih sesuatu yang di harapkan atau di impikan, dengan level yang bervariasi mulai dari keluarga, pendidikan, karir sampai urusan hati. Dan kegagalan sering menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Namun pernahkah kita sadari bahwa banyak orang yang sukses karena kegagalannya. Contoh termasyur adalah Thomas Alva Edison, seorang ilmuwan yang sangat terkenal dalam menemukan bolam lampu listrik ini pernah mengalami ribuan kali kegagalan sebelum akhirnya berhasil, atau Harland Sanders pengusaha ayam Kentucky, yang kini outletnya tersebar di seluruh dunia ini, pernah ratusan kali menu masakan nya di tolak. Dan masih banyak lagi contoh2 lain yang bisa di ambil pelajaran bahwa kegagalan bisa menjadi energi positive tuk mengoptimalkan segala kemampuan kita jika kita bisa memetik nilai positip dari sebuah kegagalan, sehingga tak ada kata frustasi atau patah semangat.

Memang hati kita bukan terbuat dari baja, jadi wajar kalau kita mengalami kekecewaan karena kegagalan, asalkan jangan larut dengan kekecewaan itu yang akan membuat keadaan makin memburuk. Kita di karuniai perasaan tuk bisa merasakan susah, seneng, sedih dan bahagia, tapi kita juga di karunai akal untuk berfikir, dan sebagai penyeimbang dari perasaan. Karena biasanya perasaan jarang logis, sebaliknya akal atau mind lebih mengutamakan logika.

Secara pribadi aku merasa sering mengalami kegagalan, dan tak jarang aku merasa kenapa ya aku ga bisa seperti mereka, kenapa ya..aku ga berhasil seperti mereka, atau kenapa yah aku yang harus menanggung kegagalan ini?, pertanyaan2 yang bisa membuat suasana mello tapi bisa juga sebagai acuan tuk intropeksi diri. Namun aku sangat bersyukur aku masih di beri kekuatan oleh-Nya tuk kemudian mencoba memahami makna kagagalan yang pernah ku alami walau belum juga bisa di bilang aku berhasil paling tidak aku tidak putus asa. Aku mencoba tuk berfikir secara logis, dan inilah salah satu karunia Allah yang harus di manfaatkan yaitu aku di beri otak tuk berfikir.

aku harus logis karena aku hidup bukan di alam dongeng, yang semua bisa berubah menjadi indah dalam sekejap. Aku bukan Cinderella yang kehidupannya berubah dalam sesaat setelah bertemu pangeran impiannya. Aku adalah aku, yang di ciptakan sebagai aku, dengan segala kelemahan dan mungkin ada kelebihanku, aku tak mungkin menjadi orang lain, dan kalaupun aku bisa meraih seperti apa yang orang lain dapatkan pun aku akan merasakan dengan cara yang berbeda, juga respon yang berbeda. Dari sini aku mencoba memahami bahwa aku tak boleh iri dengan keberhasilan orang, karena semua Dia berikan sesuai dengan kapasitasnya. Dan apa yang ku miliki saat ini adalah kapasitas yang mampu ku tampung saat ini. Namun ini tak boleh pula buatku ga berusaha, karena Allah mungkin akan melihat kapasitas ku dari sisi usahaku.

Dalam menghadapi masalah, aku pun kadang mengeluh, sedih, resah, dsb. Dan kadang berfikir, kenapa ya Allah melibatkan aku dalam masalah seperti ini, dan aku kembali ingat firman-Nya..Laayukalifullahhu Nafsan Illa wus'aha, Allah tak kan mamberikan beban di luar batas kemampuan kita, kalau Allah memilihku dengan masalah atau cobaan itu, mungkin memang akulah yang di anggap sanggup dengan beban itu. Langkah selanjutnya adalah bagaimana aku harus mengatasinya??

Dulu sewaktu SMA, aku pernah bercita2 menjadi seorang dokter, kemudian pernah juga bercita2 menjadi seorang penjelajah bulan, bahkan pernah bercita2 menjadi seorang peneliti dan tak pernah terfikir kalau aku akan menjadi seorang sarjana sastra inggris seperti saat ini. Karena bahasa inggris termasuk pelajaran yang aku benci, dan aku dulu lebih suka berkutat dengan rumus2 dari pada belajar bahasa. Tapi toh kenyataan tak selalu sesuai dengan yang kita inginkan, setelah lulus SMA aku mempunyai kendala biaya tuk bisa kuliah, dan akhirnya baru bisa kuliah setelah bekerja, dan itupun tidak bisa mengambil jurusan yang aku inginkan. Saat itu mungkin aku merasa aku telah gagal, gagal tuk menjadi seorang dokter, gagal tuk menjadi peneliti, mungkin kecewa masih ada, namun hidup kan harus realistis, sehingga aku ga boleh terlalu terpaku dengan idealisme ku. Dan aku menganggap aku telah berhasil, walau dalam bentuk "hasil" yang lain, yang tak seperti ku harapkan sebelumnya. Namun setidaknya aku bisa berkarya di bidang yang aku geluti saat ini. Dan aku harus mensyukuri hal itu.

Jadi menurutku keberhasilan tidak harus selalu identik dengan terpenuhinya mimpi dan harapan kita, tapi bagaimana kita mentransformasikan suatu "hasil" yang kita raih untuk menjadi manfaat hingga membuat kita menjadi hamba yang bersyukur.

Sekali lagi, kita hidup bukan di alam dongeng, karena itu semua perlu perjuangan, keuletan dan kesabaran. Jatuh bangun adalah hal yang biasa, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana agar kita bisa bangun lagi setelah kita terjatuh? Dan hidup adalah suatu misi untuk mewujudkan VISI hidup kita. Maka ketika kita merasa keluar dari VISI kita, saat itulah hidup kita tak kan tenang dan terasa tanpa arah, karena itu yang terpenting adalah tentukan dengan jelas VISI hidup kita dan jalankan dengan Misi kehidupan kita, semoga kita tidak pernah menjadi orang yang hopeless. Dan semoga selalu terkobar semangat dalam hati bahwa kita di lahirkan tuk jadi seorang pemenang, pemenang sebagai pemimpin diri kita, untuk mewujudkan visi dan misi yang telah kita tetapkan dalam hati.."WE WERE BORN TO WIN"

tulisan ini di tulis tahun 2007 atau 2006 ya? bulannya dah lupa tuh J
Alzrie

Kamis, 10 April 2008

CINTA itu milik kita

Pasti dah ga asing lagi dengan satu kata ini, sebuah kt yang bisa membuat melambung si pendengar dan bisa membuat sang penutur bernafas lega setelah mengatakannya. “CINTA”, satu kata singkat yang sanggup membuat tangis jadi tawa, jua sanggup membuat mahligai bahagia jadi jurang sengsara. (uh..uh…uh sampai segitunya Mpok..!!) uppsst…!! Tapi aku ga mau berkomentar tentang cinta yang ini, cinta yang kata orang bisa merobek hati, cinta yang katanya bisa meremukkan asa, menciptakan derita. Tapi aku ingin bertutur sedikit tentang cinta yang ku nikmati saat ini, cinta yang di landasi karena ikatan akidah, cinta yang sering kurasakan dengan sahabat2ku seiman, cinta yang sering membuatku tersenyum dengan canda tawa, cinta yang terjalin indah dalam ikatan doa dan nasehat. Mungkin tak seindah ketika merasakan indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama (Ehm..), pun tak seindah dua cinta muda-mudi yang memadu kasih, tapi cinta yang di ikat akidah ini tak pernah meninggalkan perih di hatiku tak pernah jua meniggalkan luka yang buatku merana, tak jua meneteskan airmata dan derita, tapi bisa merangkai tawa dan canda dalam untaian nasehat dalam nestapaku, dalam butiran kalung doa yang tersemat di setiap hati yang membimbingku.

Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Tak mudah tuk merealisasikan cinta di atas, yang sering terjadi adalah rasa egois diri, rasa ingin di mengerti tak luput jua ini ku alami dalam jalinan cintaku bersama mereka, tapi bukan berarti habis pupus asa persaudaraan dalam akidah ini karena kesempurnaan hanyalah milikNya usaha dan proses adalah jalur yang mestinya di tempuh hingga berhembus nafas cinta yang di setiap sesak kehidupan kan selalu ada hawa sejuk nasehat, dalam derai airmata penyesalan ada gelak tawa yang menghibur riang. Seandainya saja seutuhnya untaian hadist diatas bisa di realisasikan setidaknya hanya tuk menghindari dendam dan kebencian..Ach…tapi kita masih sering menyaksikan umat terpecah belah, masing- masing mengaku paling benar, bahkan tak jarang mereka bertengkar hanya untuk satu kata keangkuhan “harga diri”.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah:111)

Seorang muslim sejatinya telah menggadaikan harga dirinya kepada Allah SWT, yang hanya akan di tebus dengan Ridha-Nya, yang akan di balas dengan syurga. Hingga seharusnya tak ada berang dan wajah garang ketika merasa di remehkan hingga seharusnya tak ada dendam kebencian ketika merasa diri di rendahkan. Tapi gejolak kemarahan itu timbul ketika Akidah di permainkan, ketika dien ini di hinakan dan ketika Rosulullah tercinta di tertawakan. Bukan tak boleh membela diri bahkan membiarkan orang berbuat dzalim juga tidak di benarkan dan hukum qishaspun di perbolehkan, namun kenyataan yang sering terjadi adalah, tidak proporsionalnya menyikapi suatu persoalan, hal yang sering kali tak sefaham atau sering kita anggap meremehkan diri kita, keluarga kita, desa kita atau suku kita. Seakan menjadi wabah yang terus menjalar dan kemudian merasuki jiwa-jiwa yang terbakar amarah, merongrong tubuh persaudaraan hingga dendam tak bisa di hindarkan sampai ikatan akidahpun sering kali di lumpuhkan. Yang ada saat itu adalah wajah berang dengan kata-kata ketus, wajah angkuh berdiri dengan telunjuk mengacung..” kau telah menghina sukuku, atau kau telah menghina ormasku, kau menghina partaiku..!!“.

"Perumpamaan kaum Muslim dalam urusan kasih sayang dan tolong menolong bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota badan berasa sakit, maka akan menjalarlah penderitaan itu ke seluruh tubuh badan sehingga tidak dapat tidur (berjaga malam) dan berasa demam." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas Sangat familiar, jangankan di kalangan intelectual, dikalangan kelas bawah selevel akupun pasti pernah mendengarnya, tapi berapa banyak dari kita yang mampu mendalami maknanya?, berapa persen dari umat ini yang mampu merealisasikannya?. Kita bisa melihat kenyataan yang ada, betapa umat ini telah terkotak-kotak dalam ormas, partai, atau bahkan suku. Perbedaan adalah sunatullah yang akan selalu ada, tetapi menghormati perbedaan dalam nuansa dialog dan saling mengingatkan ini yang jarang sekali terjadi. Tak jarang di antara saudara seiman saling hujat, saling tuding, dan saling menjatuhkan. Apakah adab begini sejatinya yang di ajarkan?

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan, tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat sifat yang baik itu tidak akan dianugerahkan melainkan kepada orang orang yang mempunyai keberuntungan besar.”
(QS, Fushshilat :34)

“Tolong lah saudaramu ketika ia berbuat dzalim maupun di dzalimi, apa bila dia dzalim, cegahlah dengan perbuatannya, bila dia di dzalimi, upayakan agar dia menang.” (HR Al-Bukhari)

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.” (HR.AL-Bukhari).

Betapa indah untaian kata-kata dalam firman Allah dan dalam hadist diatas, tak hanya sebatas kata seandainya diri kita mampu menyelami dan melaksanakannya hingga tak ada lagi perang antar suku, perang antar adat, perselihan antar ormas atau bentrok antar partai. Yang ada adalah satu perjaungan untuk dien yang Mulia ini Dienul Islam. Ga ada ikatan adat, ga ada ikatan suku ataupun ikatan ormas, pun ikatan partai yang ada adalah ikatan Akidah untuk menjadi umat yang satu yang Rahmatan lil ‘alamin.

Memang fikiran naïfku ini sungguh tak akan cukup mewakili segudang masalah dalam ranah perbedaan yang ada di umat ini. Pun pengetahuanku belum sampai akan kompleksitas perbedaan yang mungkin di anggap tak bisa diselesaikan dengan jalan ”damai” di tengah kancah kehidupan yang kian permissive dimana sikap Individualist kian banyak mendapat penopang. Tapi seharusnya, semangat bersaudara akan membuat penyelesaian masalah lebih baik,….seandainya saja rasa CINTA telah tertanam di hati kita, seandainya kasih sayang saling tercurah untuk saudara kita..Ach..alangkah indahnya.


Dalam diamku….,
Jakarta 140807
Alzrie

Dikotomi Ilmu, Navigasi sekularisme

jika kita merujuk kembali, membuka lembaran sejarah, betapa banyak terukir kenangan indah, kemenangan, kejayaan umat ISlam. bukan dalam rangka arogansy jika umat Islam mampu menaklukkan dunia bahkan menjadi kiblat peradaban dan pusat pendididikan. tak bisa di pungkiri bahwa Andalucía, Bagdad di masa dinasti abasia, telah menjadi saksi bisu indah kenangan itu. berbagai ilmu pergetahuan yang kini berkembang mulai dari kedokteran, matematika, bahkan teknologi persenjataan adalah bagian dari warisan umat islam abad2 lalu. kita mungkin terkesima walau hanya sesaat akan semua kenangan indah itu, namun begitu sulit merangkai kembali atau meneruskan kejayaan yang terhenti. tapi that's the reality, kenyataan yang kita hadapi saat ini sungguh jauh berbalik jika di banding pada kejayaan Islam dulu ketika saat itu Islam mampu menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia, Islam tidak hanya menjadi umat yang banyak memberikan manfaat bagi bangsa lain juga menjadi umat yang di segani.

kemunduran umat islam saat ini salah satunya di sebabkan oleh adanya dikotomi keilmuan yang memisahkan ilmu agama (syariah) dan ilmu umum (sekuler). sehingga muncul ketimpangan pengetahuan dalam diri muslim ketika ilmu agamnya bagus tetapi tidak mengerti tentang ilmu umum demikian juga sarjana2 dari ilmu umum kemudian menjadi "orang awam" ketika bersentuhan dengan ilmu syariah.

sebenarnya Islam tidak mengenal dikotomi ilmu tidak ada perbedaan antara ilmu umum dan ilmu agama ini di kuatkan oleh bukti banyak ulama klasik yang menguasai lebih dari satu otoritas keilmuan. Seorang Ibn Rusyd, misalnya, adalah ahli filsafat, ahli fikih, sekaligus seorang pakar kedokteran. kemudian Ibn Nafis adalah dokter ahli mata, plus ahli fikih. Ibn Khaldun, sosiolog Islam ternama, juga seorang ahli fikih, Imam Syuyuthi menguasai lebih dari 7 disiplin ilmu. yang ada adalah perbedaan peringkat ke-farduannya. ilmu agama(syariah) sifatnya fardu'ain sedangkan ilmu umum itu sifatnya fardhu kifayah (www. cybermq) pembedaan ke-fardu-an ini tentu juga membedakan skala prioritasnya, jelas bahwa ilmu agama lebih prioritas tapi bukan berarti belajar ilmu agama kemudian melupakan urgensi ilmu-ilmu umum. karena tidak bisa di tolak bahwa ilmu umum banyak menunjang kesejahteraan umat. Cuma dalam penerapannya Ilmu agama haruslah di ajarkan lebih dulu karena berperan sebagai benteng ataupun pondasi. dan para ulama klasik banyak yang berpendapat bahwa kedua-duanya penting untuk di pelajari.

dikotomi ilmu ini berakar dari perbedaan epistimologi ilmu dalam ISlam dan barat. llmu dalam islam tidak bisa di terjemahkan dengan "science" dalam bahasa inggris. karena menurut dunia barat sesuatu itu di anggap ilmiah jika memenuhi kebenaran realitas empiris. sedangkan epistimologi islam bersandar pada Wahyu dan realitas (empiric). dalam Islam kata "Ilmu" sangat luas cakupannya tidak hanya sesuatu yang sifatnya materialistic (fisik) tetapi juga metafisik. berbeda dengan barat yang memiliki paham materialisme di mana sesuatu yang di anggap "science " itu hanya yang di ketahui secara nyata keberadaan materinya (fisik) dan hal2 yang tidak bisa di veririkasi dengan panca indra di anggap tidak ilmiah. dan ketika konsep "science" ini di terapkan dalam dunia islam seperti di Indonesia, lahirlah dualisme keilmuan ini. dualisme keilmuan ini membawa banyak kerugian bagi umat islam terutama dalam konsep keilmuan itu sendiri, yang sering mempertentangkan antara Wahyu dan akal. padahal keduanya merupakan sarana ilmu yang mempunyai otoritas tersendiri. Wahyu sebagai sumber ilmu dan akal sebagai alat untuk menterjemahkan Wahyu tersebut.

dikotomi ilmu ini jua yeng mengilhami kemunduran umat ini, realitas yang ada saat ini adalah banyak nya sarjana agama yang tidak peduli bahkan mengabaikan ilmu umum, dan sebaliknya banyak sarjana ilmu umum yang "tidak ngerti" agama. di sinilah terjadi imbalancing atau ketidak seimbangan, ketika sarjana agama hanya bisa berkutik di ranah syariah dan sarjana umum yang hanya ahli di bidang umum seandainya sarjana umum faham ilmu agama maka dia tidak akan keluar dari etika "beragama" dalam keilmuannya begitu juga sebaliknya. sehingga harus di bedakan juga tentang spesialisasi ilmu, misalnya ahli agama tidak juga harus mahir ilmu matematika, jago fisika, tapi setidaknya mengerti, dan begitu juga yang ahli kedokteran, ahli kimia tidak harus juga jadi ahli fikih tapi harus mengerti tentang fiqih.

sayang nya lagi yang ada saat ini, sekolah umum sebagai yang hanya mengajarkan ilmu umum masih jauh lebih banyak di banding sekolah agama yang masih mendapat ruang yang sempit sebagai konsekwensinya ya kita lihat kenyataan sekarang, degradasi moral yang menjadi pemicu hancurnya generasi ini, ini di sebabkan pondasi ilmu agama yang lemah. sehari2 di sekolah umum mereka hanya di cekoki ilmu2 yang umum yang di fahami sebagai "ilmu" ciptaan manusia, bahkan ilmu agama biasanya hanya diajarkan satu kali dalam seminggu itupun hanya 2 jam pelajaran. bisa di bayangkan hasilnya kalau generasi ini memahami ilmu dengan kacamata "scincce" nya orang barat, yang jauh berbeda dengan konsep "ilmu" dalam islam. ujung2nya harus kita sadari bahwa inilah "buah dari sekularisme", yaitu pemisahan antara agama dan hal-hal yang bersifat duniawi. dan mengaminkan liberalisme, sehingga seorang ulil absor tokoh islam Liberal mengatakan bahwa Alqur'an itu harus di pahami dengan cara seperti ilmu pengetahuan lain dalam konsep barat (Science) sehingga dalam mempelajari islam dan alqur'an secara ilmiah harus menyingkirkan "faith-based". tentu ini jauh bersebrangan dengan tuntunan kita dimana faith itu lah yang di jadikan dasar untuk memahami ilmu. bagi kita kedukukan "nash" itu jauh lebih tinggi dari akal.

menurutku bukan hal yang make sense jika libealisme, sekularisme di anggap sebagai solusi dari problematika kemunduran umat ini. tapi justru yang di perlukan adalah reformasi pendidikan. dengan menyingkirkan dikotomi ilmu maka, generasi ini kelak akan mempunyai "fondasi" yang kuat dalam keimananya dan mempunyai kemampuan "akademis" yang memadai untuk bisa bersaing di ranah global, sehingga akan lahir generasi yang mendekati "rahmatan lil 'alamin". yang kuat iman, cakap, prestatif dan mandiri yang akan mampu membangkitkan keterpurukan dan mengejar ketertinggalan umat ini.


190907
Alzrie

Negara berTuhan tetapi mengakui Teori tak berTuhan

Phitecan tropus erectus…hommo solowensis…hommo wajakensis…” aku baru ingat lagi kata2 yang sering di ulang2 sama guru sejarahku waktu SMP, guruku mengulang2 nama2 itu sampai kami hafal. Nama2 fosil manusia purba yang di klaim sebagai bukti dari teori evolusi Darwin. Aku baru tahu betapa sebenernya teori dusta itu bisa menyesatkan. Teori yang sangat bertentangan dengan ideology bangsa ini yang menyebutkan di butir pertama “ketuhanan yang maha Esa” jelas bangsa kita adalah bangsa yang bertuhan, yang mengakui adanya penciptaan,
Jelas sekali terpampang juga dengan Undang-Undang bahwa kita mengakui adanya 5 agama yang kesemuanya percaya dengan adanya Tuhan, tapi yang aneh, mengapa kita masih percaya dengan teori evolusi yang jelas2 mengingkari adanya penciptaan, atau mengingkari adanya Tuhan. Bahkan teori evolusi ini di muat dalam kurikulum pelajaran sekolah, yang masuk dalam pelajaran sejarah.

Teori evolusi di temukan oleh Charles Darwin sekitar 150 tahun yang lalu, teori yang berpijak pada keyakinan bahwa kehidupan terjadi dengan sendirinya, dan muncul secara kebetulan. Teori ini mengatakna bahwa kehidupan berasal dari satu mahluk yang paling sederhana yaitu Sel pertama. Sel ini terbentuk secara kebetulan atau karena factor "pembentukan mandiri" yang secara hypothesis di sebut sebagai hukum alam dan kemudian berevolusi menjadi makluk2 hidup yang lain. Jadi menurut teori ini manusia tidak di ciptakan tetapi ada secara kebetulan sebagai hasil evolusi dari binatang. Sebuah teori yang sebenarnya jauh dari Ilmiah, bahkan bisa di bilang tidak masuk akal. Kini, berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti paleontologi (cabang geologi yang mengkaji kehidupan pra-sejarah melalui fosil), genetika, biokimia dan biologi molekuler telah membuktikan bahwa tak mungkin makhluk hidup tercipta akibat kebetulan atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Sel hidup, demikian dunia ilmiah sepakat, adalah struktur paling kompleks yang pernah ditemukan manusia. Ilmu pengetahuan modern mengungkapkan bahwa satu sel hidup saja memiliki struktur dan berbagai sistem rumit dan saling terkait, yang jauh lebih kompleks daripada sebuah kota besar. Dan struktur kompleks ini baru berfungsi apabila setiap bagian dari penyusunya muncul secara bersamaan dan sudah dalam keadaan berfungsi penuh. molekul DNA yang terdapat di dalam inti sel hidup, sebuah sistem kode yang terdiri dari 3,5 miliar satuan berisi semua rincian makhluk hidup (DNA pertama kali ditemukan melalui kristalografi sinar-X pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an jauh setelah lahirnya teori evolusi), dan merupakan sebuah molekul raksasa dengan rancangan yang luar biasa. Sebagai bukti telak sebuah Rancangan Cerdas Sang Pencipta, yang seharusnya di terima dengan akal sehat oleh kaum evolusionis. ("Runtuhnya Teori Evolusi – Harun Yahya)


Sampai usia 150 tahun keberadaannya teori ini tidak bisa memberikan bukti ilmiah adanya manusia peralihan sebagai bukti dari evolusi tersebut. selain ledakan zaman kambrium yang tidak bisa membuktikan konsep pohon filumnya Darwin, bahkan saat ini telah banyak di temukan fosil yang telah berumur ratusan juta tahun yang di temukan justru memiliki ciri homo sapiens (manusia modern-red). Dan klaim bahwa manusia berasal dari kera dengan alasan kemiripan DNA sama sekali tidak bisa di andalkan. kemiripan DNA antara manusia dan kera yang di ketahui akhir2 ini sebesar 95% sama sekali bukan bukti bahwa manusia berasal dari kera, karena manusia juga mempunyai kemiripan DNA dengan cacing nematoda sampai 75% (versi Majalah New Scientist) dan bukan berarti manusia mempunyai perbedaan dengan cacing hanya sebesar 25%, Apalagi berasal dari cacing. Banyak sekali bukti ilmiah yang dengan mudah menghancurkan teori ini.

Beberapa penemuan fosil homo sapiens sebagai bukti usia umat manusia di muka bumi berikut juga sebagai salah satu bukti lumpuhnya teori ini:
- Salah satu peninggalan manusia tertua adalah "jejak kaki" yang ditemukan oleh ahli paleontologi terkenal, Mary Leakey, tahun 1977 di daerah Laetoli, Tanzania. Peninggalan ini amat menghebohkan dunia ilmiah. Menurut riset, usia lapisan tempat jejak kaki ini ditemukan adalah 3,6 juta tahun. Russell Tuttle, yang menyaksikan jejak kaki itu, menulis:
Jejak kaki itu mungkin berasal dari seorang Homo sapiens yang bertubuh kecil, tanpa alas kaki… Ciri morfologis yang dapat dikenali pada kaki makhluk yang meninggalkan jejak tersebut tak bisa dibedakan dengan kaki manusia modern. Penelitian objektif atas jejak kaki itu mengungkapkan pemilik kaki yang sebenarnya. Dua puluh buah tapak kaki itu, yang sudah menjadi fosil, berasal dari manusia modern yang berusia 10 tahun, dan 27 buah tapak kaki lainnya berasal dari manusia yang bahkan lebih muda. Kesimpulan ini dihasilkan oleh ahli paleoantropologi terkenal seperti Don Johnson dan Tim White, yang memeriksa tapak kaki penemuan Mary Leakey.
- Peninggalan manusia tertua lainnya adalah reruntuhan pondok batu, yang ditemukan oleh Louis Leakey tahun 1970-an di daerah Olduvai Gorge. Reruntuhan pondok itu berada pada lapisan berusia 1,7 juta tahun. Sudah diketahui bahwa struktur bangunan seperti ini, serupa dengan yang masih ada di Afrika masa kini, hanya mampu dihasilkan oleh Homo sapiens, atau dengan kata lain, manusia modern. Yang terungkap dari reruntuhan ini adalah, manusia hidup satu zaman dengan makhluk yang dianggap para evolusionis sebagai makhluk serupa kera, yang mereka anggap nenek moyang kita.
- Sebuah tulang rahang manusia berusia 2,3 juta tahun, yang ditemukan di daerah Hadar di Ethiopia, amatlah penting untuk menunjukkan bahwa manusia sudah ada di Bumi jauh lebih lama dari pada yang diperkirakan para evolusionis.
- Satu fosil manusia yang paling menarik perhatian adalah fosil yang ditemukan di Spanyol tahun 1995. Fosil itu ditemukan di sebuah gua bernama Gran Dolina di daerah Atapuerca, Spanyol, oleh tiga ahli paleoantropologi berkebangsaan Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil itu berupa anak lelaki berusia 11 tahun yang sepenuhnya mirip manusia modern. Padahal, anak itu meninggal 800.000 tahun silam. Fosil ini mengguncang keyakinan Juan Luis Arsuaga Ferreras, pemimpin penggalian Gran Dolina. (dikutip dari buku “Runtuhnya Teori Evolusi” – Harun Yahya)
Teori Evolusi ini telah berpengaruh besar kepada pandangan hidup masyarakat karena teori ini juga mengajarkan satu2nya hukum yang berlaku adalah usaha mahluk hidup yang mementingkan diri sendiri untuk bertahan hidup (survival). Pengaruh ini nampak mulai dari abad sembilan belas, dan dua puluh dimana manusia semakin egois, individualis, anti moral dan akrab dengan kekerasan, juga mengilhami tumbuh kembangnya ideology berdarah, seperti fasisme dan komunisme yang menyeret manusia dalam krisis individu dan social karena semakin jauh dari ahlak agama.

Tapi anehnya teori ini tetap di biarkan subur bahkan mati2an di bela oleh pendukungnya bahkan di negeri paman Sam, negeri pahlawannya liberalisme itu konon tidak akan meluluskan satu thesispun yang isinya menentang teori si Darwin ini.

Sebenernya bertahannya teori ini lebih karena alasan ideologis, para penganut teori ini atau sering di panggil kaum Evolusionis ini adalah penganut teori materialisme. Hidup teratur dalam ketaatan pada Tuhan dengan aturan dan norma bukanlah hal yang di inginkan oleh kaum materialis.sebaliknya, masyarakat yang tumbuh tanpa moral dan nilai spiritual adalah yang di inginkan mereka sebab meraka akan lebih mudah memanipulasi demi kepentingan duniawi mereka sendiri. Inilah salah satu alasan kenapa kaum materialis mencoba memaksakan teori ini di tengah masyarakat. Sehingga masih banyak (terutama di dunia barat) yang berkeyakinan bahwa teori ini adalah benar dan ilmiah. Walau teori ini sudah berkali harus mengakui ajalnya, namun para evolusionis masih mati2an mempertahankan dusta yang mengandalkan hipotesa yang tak terbukti, pengamatan yang berdasarkan prasangka yang tak sesuai dengan kenyataan.

Sedihnya, teori ini juga di biarkan tumbuh subur di negeri kita ini, negeri yang mengaku berTuhan bahkan negeri dengan muslim terbesar. Aku memang belum tahu pasti apakah pelajaran ini masih di muat di buku pelajaran sejarah sekarang, tapi inilah yang aku alami dulu. Sungguh hal yang aku tak mengerti mengapa pemerintah mengijinkan kontradiksi ini, aku rasa bukan hal yang tepat jika alasannya agar siswa berfikir ilimiah dengan menyajikan dua fakta kontradiksi antara pelajaran agama dan sejarah, tapi justru bisa menjadi suatu pemahaman yang dikotomis. Jangan heran kalau sampai sekarang anak2 kita atau adek kita masih menganggap bahwa manusia dulunya adalah kera suatu hal sepele tapi menyeret ke jurang kekufuran. Juga jangan bingung jika anak kita akan bertanya mana yang benar tentang asal usul manusia, dari kera-kah, atau dari adam dan hawa?

Dalam hal kurikulum saja kita sudah di jajah, atau setidaknya “membeo” dengan dunia barat. Ntah karena alasan ilmiah, politis atau ideologis, tapi sungguh sangat di sayangkan Negara yang bertuhan tapi mengakui keabsahan teori “tanpa Tuhan”

Jakarta 231007
Alzrie

Agamis Vs Sekularis...

Beberapa minggu yang lalu, sempet baca kabar di email tentang ”ceramah” taufik kemas di salah satu Universitas di Malaysia, mengenai misi sekularisnya, bahkan sempat menuduh salah satu partai Islam di Indonesia sebagai teroris.

Beberapa bulan yang lalu di adakan agenda pemilihan Gubernur di Jakarta, yang mengusung dua calon, satunya Foke dengan Jargon sekulernya “Jakarta untuk semua” yang satu lagi adang-dani dengan nuansa Islami dan dengan jargon “Benahi Jakarta” nya.

Tak ada yang begitu istimewa dari pemilihan itu, karena sudah menjadi rahasia umum kecurangan yang sering terjadi dalam berpolitik, seperti munculnya Ghost Vote, dan juga banyaknya warga yang tidak mendapatkan kartu pemilih, belum lagi black campaign yang kian marak mewarnai percaturan politik di wilayah yang di anggap paling elit di nusantara ini.

Tapi menurutku ada hal yang lebih menarik untuk di simak dalam pemilihan itu, yaitu tidak imbangnya dukungan partai politik kepada dua kubu yang bersaing. Konon Foke yang mengusung agenda sekuler itu mendapat dukungan lebih dari 23 partai. Dan yang mencengangkan di antara partai2 itu beberapa diantaranya adalah partai islam seperti PAN dan PKB. Agak samar untuk menerobos agenda di balik dukungan ini, bukankah PAN dan PKB Selama ini mengusung nilai agamis, kenapa justru bertolak belakang dan seakan bersekongkol menjatuhkan partai Islam yang seyogyanya mendapat dukungan mereka dan bergabung mewujudkan agenda sekuler. Masih terlalu gamang atau dini jika mengatakan hal ini adalah strategi politik, atau mencari kendaraan politik, mencari dukungan atau apalah namanya yang tidak lagi melihat mana lawan mana kawan, mana yang harus di dukung mana yang tidak. Jika PDI jelas dengan sense of nationalism yang di gembar-gemborkannya juga dengan blak-blakan mengakui akan melibat kan Amerika dalam mewujudkan Sekularismenya, lalu apakah partai Islam juga akan mempunyai jalur atau agenda yang sama..semuanya masih samar, tapi sungguh hal ini sangat rancu setidaknya untuk masyarakat awam sepertiku. Apakah benar bahwa politik bisa menggeser iman, ataukah politik juga bisa merubah pendirian karena hangatnya belaian kekuasaan?

Semuanya masih terkesan gelap, tapi satu hal yang bisa di lihat lebih cermat, yaitu perpecahan umat islam yang kian jelas di rasakan. Masuknya kaum agama kedalam percaturan politik di harapkan mampu membawahi umat ini dengan membawa misi dakwah dalam politik dengan harapan bisa membuat perubahan lebih baik bagi perbaikan moral dan kehidupan bangsa ini, tapi sepertinya justru sebaliknya umat semakin terkotak-kotak tidak saja dalam mazdab dan ormas tapi juga dalam partai. Bahkan jika di cermati lebih lanjut partai yang tadinya berhaluan agamis dan membawa misi dakwah (seharusnya) justru sering bersekongkol dengan yang menjatuhkan dakwahnya dan berbalik memusuhi sesama teman dakwahnya. Dan sudah lama tercium kabar tidak harmonisnya hubungan beberapa parta Islam di negeri ini, apakah ini masih di kategorikan bahwa mereka menghargai perbedaan sebagai Rahmat? Karena perbedaan di sini sudah mengacu pada perpecahan bahkan perebutan kekuasaan.

Bukan untuk mendramatisir atau membesarkan masalah, tetapi meredam hal besar dan di anggap masalah sepele bisa jadi bumerang yang berbahaya. Ini hanya salah satu cermin dari tidak idealnya ritual ibadah dengan kesolehan social. Semua umat Islam kalau di masjid pasti mengakui bahwa Allah itu satu, dan hanya hukum Allah yang benar, juga semua Muslim tidak ada yang menolak bahwa sesama muslim itu bersaudara, tapi di luar masjid beda urusan. Di masjid semua juga setuju kalau pornografi itu dosa tapi di luar masjid bahkan tokoh agamapun ada yang ngotot membela pornografi dan pornoaksi untuk di lestarikan..Hm..Fantastis bukan?. Mau tidak mau kita harus menyadari bahwa kita masih sering menjadi manusia bermuka dua. Mengaku islam tapi menolak hukum islam, mengaku Islam tapi mendukung sekularisme yang jelas2 bertentangan dengan nilai islam. Tak tau apa misinya apakah untuk sebuah kata Muslim moderat, atau untuk mendompleng agar dapat posisi “empuk” atau untuk bisa duduk nyaman dari hujatan "terorisme” nya Amerika? Wallahu’alam.

Jakarta 231007
Alzrie